Dewan Pers

Dark/Light Mode

Komunikasi Keluarga Di Tengah Disrupsi Dan Pandemi

Sabtu, 26 Februari 2022 12:02 WIB
Fita Fathurokhmah, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Ist)
Fita Fathurokhmah, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wabah coronavirus desease 19 (Covid-19) mengubah kehidupan manusia. Realitas Covid -19 tersebut mengancam kesehatan dan jiwa manusia karena penyebarannya begitu cepat. 

Pemerintah membuat kebijakan untuk menekan jumlah korban dengan pembatasan aktivitas masyarakat, salah satunya kebijakan work from home dan study from home. Covid -19 juga mendisrupsi ketahanan keluarga dengan begitu banyaknya perubahan. 

Disrupsi merupakan sebuah era dimana terjadi inovasi dan perubahan secara besar-besaran dan fundamental mengubah semua sistem, tatanan dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Disrupsi Covid-19 menyebabkan krisis multi-dimensi. 

Berita Terkait : 4 Ide Kencan Romantis Di Rumah Selama Pandemi

Bermula dari munculnya realitas tragedy kemanusiaan yang menyebabkan kecemasan manusia terhadap kesehatan. Krisis sektor ekonomi karena banyak yang mengalami kesulitan keuangan dengan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perusahaan tidak memiliki kemampuan memenuhi gaji karyawannya lagi. 

Krisis Pendidikan yang dialami di pedesaan yang tidak memiliki fasilitas untuk study from home, sehingga belajar di sekolah secara offline tidak dilakukan dan belajar secara online tidak terlaksana. Pada akhirnya menyebabkan tingkat pemahaman dan tujuan pendidikan tidak tercapai. 

Selain itu krisis dari dimensi keagamaan, terjadi disrupsi beribadah dan mencari ilmu agama dari offline beralih pada online dengan banyak memanfaatkan media sosial. Hal tersebut memunculkan persoalan lainnya yaitu semakin bertebaran berita bohong dan palsu di media sosial sehingga tatanan kehidupan masyarakat banyak mengalami dinamika.

Berita Terkait : KPK, Kemendagri, Dan BPKP Awasi Pencegahan Korupsi Di Banten

Realitas adanya disrupsi pada tatanan kehidupan masyarakat ini dialami pada keluarga sebagai pranata sosial terkecil dan terpenting. Dengan adanya kebijakan lockdown berakibat adanya kejenuhan yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga, permasalahan sekolah, pekerjaan atau kantor, tidak dapat bepergian dan masalah-masalah kecil menjadi komplek. 

Hal tersebut salah satu sebabnya adalah kuantitas waktu bersama dirumah durasinya lama dibandingkan dengan sebelum kebijakan social and physical distancing. Keintiman dan bentrok atau konflik dalam keluarga tidak dapat terhindarkan. 

Keluarga menurut Sedwig (1985) adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam sebuah tempat tinggal dan masing-masing orang merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling memengaruhi dan memperhatikan satu sama lain. 
 Selanjutnya