Dark/Light Mode

Pendidikan Multikultural di Masyarakat Pedesaan

Kamis, 29 Juni 2023 17:11 WIB
Ajaran multikultural melalui ritual (Foto: Istimewa)
Ajaran multikultural melalui ritual (Foto: Istimewa)

Keberagaman identitas agama, suku, dan budaya bangsa Indonesia merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar dengan identitas yang bersatu. Oleh karena itu, Indonesia juga disebut sebagai “multikulturalisme”. Sebagai sebuah karya, ia terdiri dari berbagai kepingan teka-teki yang membentuk multikulturalisme yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Jika puzzle tersebut hilang atau rusak, potongan tersebut tidak lagi terlihat lengkap dan indah. Itu adalah sisi lain dibalik bangsa yang majemuk, bukan bangsa yang bersatu.

Dalam konteks Indonesia, pluralisme menjadi realitas bagi semua umat beragama. Di negeri ini terdapat berbagai agama dan kepercayaan yang keberadaan dan haknya harus dihormati. Oleh karena itu, satu kelompok agama tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk mendiskriminasi, mengintimidasi bahkan menindas kelompok lain.

Praktik multikulturalisme Indonesia dapat ditemukan di beberapa tempat. Salah satu yang menarik adalah kehidupan masyarakat di Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Desa ini adalah salah satu komunitas yang telah menikmati kehidupan beragama yang rukun dan harmonis selama bertahun-tahun. Penduduk suatu kota memiliki tiga identitas agama yaitu Islam, Katolik, dan Budha. Kesan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang terasing dari peradaban modern sudah tidak menarik lagi.

Baca juga : Tuan Guru Ganjar Adakan Penyuluhan Dan Ajak Masyarakat Perangi Narkoba

Dalam kajian Zaitur Rahemi “Spirit of Multiculturalism of Madurase Outback Communities” (2018), ia mengungkapkan fakta bahwa budaya telah menjadi alat yang ampuh bagi masyarakat Desa Polagan untuk menciptakan kerukunan dan kerukunan antar umat beragama. Orang menyebut budaya ini Molang Areh.

Kajian yang dilakukan atas dukungan Ditjen Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Dit PTKI), Ditjen Pendis Kementerian Agama, Tahun Anggaran 2018 ini menemukan bahwa Molang- Pers Budaya Areh Masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran buah hati di tengah keluarga orang Madura. Molang Areh dihidangkan dengan isi yang meriah dan kedalaman rasa yang menjamin masyarakat Madura menjaga kesucian acara tersebut.

Masyarakat menjadikan kegiatan budaya Molang Areh sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka. Oleh karena itu, diasumsikan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk menerapkan dan memelihara budaya ini. Seluruh keluarga yang telah dikaruniai seorang anak sesuai standar budaya Molang Areh diharapkan tidak pernah sepenuhnya mengabaikan budaya Molang Areh. Molang Areh merupakan tradisi bagi anak yang baru lahir dalam masyarakat Madura.

Baca juga : Kajian TGM Harus Memotret Kondisi Terkini Literasi Masyarakat

Tradisi ini hampir sama dengan aqiqah. Bedanya, bayi biasanya ditimang di dalam wadah. Bentuk wadahnya biasanya kapal yang dihiasi lampu dan bunga. Awal mula Molang Areh bagi anak perempuan biasanya terjadi sebelum usia 40 hari. Adapun anak laki-laki setelah usia 40 hari.

Dalam ritual Molang Areh, bayi ditempatkan dalam wadah yang dihias dengan warna cerah, digendong dan diperlihatkan kepada semua tamu sambil membacakan doa restu. Seseorang menggendong bayi dan wadahnya, setelah itu air bunga dan parfum disemprotkan ke para tamu undangan. Air bunga yang diucapkan shalawat dan pembacaan Al-Qur'an pada segelas air. Dapat diminum sebagai obat dan diusap ke wajah sebagai penyegar wajah. Uang kertas ditempatkan di bawah bayi sebelum diperlihatkan ke seluruh hadirin. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, hal itu sebagai penarik rezeki.

Barangkali ada dari sekian undangan yang mau menyisihkan sedikit uang untuk bayi tersebut. Uang yang diberikan langsung diletakkan di atas bayi.  Tujuannya, dalam islam sebagai pengungkapan perwujudan rasa syukur, acara upacara ini juga bertujuan memohon keselamatan pada bayi dan ibu yang telah mengandung selama 9 bulan atau 10 bulan lamanya sehingga bayi terlahir sehat dan sempurna.

Baca juga : Kementerian BUMN Ajak Masyarakat Beralih Pakai Molis

Nilai filosofis dalam tradisi ritual Molang Areh dalam kehidupan salah satunya adalah melestarikan tradisi leluhur dalam rangka memohon keselamatan. Molang Areh merupakan salah satu warisan budaya kuno dari banyak kebudayaan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Kelangsungan Sanad dari generasi ke generasi dalam ikatan kekeluargaan masyarakat Madura. Sampai saat ini pengamalan Molang Areh sangat memegang erat dengan nilai moral, ajaran agama, nilai sosial, alam dan kemanusiaan.

Di kalangan masyarakat Madura, serial Molang Areh dihadirkan dalam batas-batas budaya dan kemanusiaan yang hakiki. Budaya yang relevan adalah adanya ajaran yang benar-benar dibentuk oleh keunikan masyarakat setempat. Beberapa kegiatan Molang Areh dalam budaya Molang Areh mencerminkan pemikiran tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.