Dewan Pers

Dark/Light Mode

Fitch Pertahankan Rating RI Di BBB, Ini Kata Bos BI

Selasa, 23 Nopember 2021 15:13 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: ist)
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga pemeringkat Fitch mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada peringkat BBB (Investment Grade) dengan outlook stabil.

Keputusan ini mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah yang baik, serta rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang rendah. 

Namun, Fitch melihat masih ada beberapa tantangan yang membayangi, yaitu ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal yang tinggi, penerimaan Pemerintah yang rendah, serta fitur-fitur struktural, seperti PDB per kapita dan indikator tata kelola, yang relatif tertinggal dibandingkan negara-negara lain pada peringkat yang sama.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil, merupakan bentuk pengakuan Fitch atas stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia yang tetap terjaga.

Berita Terkait : Neraca Perdagangan Surplus Rp 152 T, Ini Penopangnya

Menurut dia, Fitch juga melihat Indonesia memiliki prospek ekonomi jangka menengah yang tetap kuat, di tengah perbaikan ekonomi global yang tidak merata dan ketidakpastian pasar keuangan global. Di mana hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara BI dan Pemerintah. 

"Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengambil langkah-langkah yang diperlukan, untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus bersinergi dengan pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional," katanya, Selasa (23/11).

Perry mengatakan, setelah meredanya kasus Covid-19 yang sempat meningkat tajam selama Juni hingga Agustus 2021, Fitch melihat ada potensi ekonomi Indonesia pada 2021 tumbuh lebih tinggi daripada proyeksi mereka sebesar 3,2 persen sejalan dengan perbaikan mobilitas masyarakat dan harga komoditas ekspor yang tinggi. 

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat menjadi 6,8 persen pada 2022 dan dalam beberapa tahun berikutnya tetap tumbuh pada kisaran 6 persen. Antara lain didukung oleh dampak positif dari implementasi UU Cipta Kerja terhadap kenaikan investasi.

Berita Terkait : Menteri Basuki Rampungkan Jalan Tol Hingga Rusun Di Banten

Dari sisi fiskal, penerapan UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) diharapkan dapat mendukung upaya mengembalikan defisit fiskal ke bawah 3 persen dari PDB pada 2023. 

Sejalan dengan itu, Fitch memperkirakan defisit fiskal mencapai 5,4 persen pada 2021 dan turun menjadi 4,5 persen pada 2022, lebih rendah daripada target Pemerintah sebesar 5,8 persen pada 2021 dan 4,9 persen pada 2022 yang belum memasukkan dampak penerapan UU HPP. 

"Tantangan dalam meningkatkan rasio penerimaan negara diperkirakan masih ada, termasuk dari sisi perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan," tegas Perry.

Terkait pembiayaan fiskal, inisiatif BI dalam mendukung pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan akibat pandemi telah menurunkan biaya bunga utang pemerintah, serta memberikan tambahan ruang fiskal bagi Pemerintah. 

Berita Terkait : Di Sumut 2024, NasDem Ingin Kalahkan Banteng

Untuk menjaga agar respon pelaku pasar terhadap kebijakan ini tetap positif, Fitch mengharapkan kebijakan ini tidak diterapkan berkepanjangan. Fitch menilai, ketahanan eksternal Indonesia membaik, antara lain terlihat dari kenaikan cadangan devisa dan arus masuk Penanaman Modal Asing (PMA) serta dukungan kerja sama swap line dengan bank sentral lain. 

Hal ini juga didukung oleh laju inflasi yang diperkirakan tetap berada dalam kisaran target 3 persen plus minus 1 persen. Hal ini sejalan dengan tekanan permintaan domestik yang masih belum kuat dan dampak dari kenaikan harga minyak internasional terhadap harga jual bahan bakar di dalam negeri yang terbatas. 

"Namun, Indonesia dipandang masih rentan terhadap perubahan sentimen investor mengingat ketergantungan yang tinggi pada arus masuk portofolio dan ekspor komoditas," sebutnya.

Diketahui, Fitch sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB dengan outlook Stabil pada 22 Maret 2021. [DWI]