Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mata Uang Kripto Cs Anjlok

Praktisi Hukum: Jadilah Investor Yang Cerdas, Jangan Latah

Sabtu, 14 Mei 2022 19:32 WIB
Ilustrasi mata uang kripto, bitcoin, terra. (Net)
Ilustrasi mata uang kripto, bitcoin, terra. (Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam seminggu terakhir beberapa uang kripto ternama seperti Bitcoin dan Etherum mengalami tren penurunan lebih dari 20 persen. Namun ada juga uang kripto Terra Luna yang turun hingga 90 persen.

Alasan utama penurunan kripto ini antara lain karena ada gerakan menjual uang kripto di seluruh dunia akibat tekanan ekonomi dan kekhawatiran atas inflasi.

Menyikapi fenomena tersebut, Analis dan Praktisi Hukum di Frans & Setiawan Law Office, Hendra Setiawan Boen berkata bahwa perang antara Rusia dan Ukraina yang mengakibatkan terganggunya pergerakan ekonomi di Eropa dan kenaikan faktor suku bunga pinjaman, mengakibatkan inflasi yang cukup tinggi dan akan terus naik.

Oleh karena itu kata dia, para investor cenderung menjual aset yang beresiko. Misalnya tidak memiliki fundamental atau underlying yang pasti, dalam hal ini mata uang kripto.

Berita Terkait : Di Dubai, Anies Ajak Investor Dunia Tanam Modal Di Jakarta

“Selama perang antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung kemungkinan kripto akan terus turun karena kinerja stablecoin Terra dolar AS juga terus memburuk. Selain itu pasar kripto juga menunjukan arah bubble karena memang overvalue. Koreksi terhadap harga akan terjadi cepat atau lambat,” kata Hendra yang sudah berpengalaman menangani perkara investasi bermasalah PT Graha Finesa Berjangka dari 2007 ini.

Meski sudah bubble, Hendra melihat gelembung harga kripto belum akan pecah. Melihat trend kenaikan dan penurunan selama ini, kripto memang cenderung turun tajam, dan kemudian naik tinggi.

"Tidak ada ukuran jelas untuk memprediksi nilai aktual asset tanpa fundamental adalah salah satu alasan kripto termasuk produk beresiko dan berbahaya untuk investasi,” imbuhnya.

Selain itu, Hendra juga menyoroti penurunan penjualan NFT sejak September 2021 hingga mencapai 92 persen. Dan nilai NFT yang turut merosot tajam seperti NFT berupa twit pertama pendiri Twitter, Jack Dorsey dari nilai pembelian 2,9 juta dolar AS dan pada bulan April dinilai 280 dolar AS.

Berita Terkait : Dian Sastrowardoyo, Pamer Isi Rumah, Minta Jangan Jahat Gibahnya

“Dari awal saya sudah melihat NFT itu tidak wajar. Pada dasarnya NFT hanya membeli data digital, padahal data digital mudah disalin siapapun secara gratis. Kalau begitu, apa gunanya membeli NFT dengan harga mahal? Yang namanya membeli barang harus disertai kepemilikan secara ekslusif. Kalau kita sudah membeli tapi orang lain dapat memiliki barang yang persis sama secara cuma-cuma,” jelas Hendra.

Hendra memberikan saran kepada calon investor untuk selalu menekankan produk investasi dengan nilai fundamental atau underlying.

Hendra mengingatkan, agar calon investor harus rajin mempelajari fundamental produk. Jangan cepat terbuai dengan bujuk rayu marketing.

Bagaimanapun lanjut Hendra, marketing punya kepentingan berupa komisi, tapi mereka tidak akan bertanggungjawab kalau ada apa-apa dengan produk tersebut.

Berita Terkait : Dulu Pangeran Cendana, Kini Pangeran Merana

Menurutnya, produk yang dijual mengandalkan influencers atau selebritas juga perlu diwaspadai, apalagi kalau sekedar memamerkan aset pribadi seolah-olah hasil investasi di produk tersebut.

"Bukan saja karena beberapa influencers produk investasi yang saat ini berhadapan dengan hukum, tapi sebenarnya dari awal semua calon investor perlu mempertanyakan bagaimana kapasitas dan kapabilitas dari para selebritis itu soal investasi.

“Intinya, jadilah investor yang cerdas dan tidak latah atau FOMO (fear of missing out)/takut ketinggalan, “ tutup Hendra. [FAZ]