Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bicara Di ICFBE Fakultas Bisnis PresUniv

Bos Gappmi: Covid Ubah Perilaku Konsumen

Senin, 6 Juni 2022 10:09 WIB
International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) yang digelar Fakultas Bisnis, President University (PresUniv). (Foto: Ist)
International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) yang digelar Fakultas Bisnis, President University (PresUniv). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya tren perubahan perilaku konsumen. Banyak konsumen saat ini lebih memperhatikan tentang asal produk, kemasan, keamanan makanan, lebih menyukai home delivery, dan makanan yang meningkatkan imunitas.

“Mereka mengurangi jajanan pinggir jalan,” ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman pada ajang International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) yang digelar Fakultas Bisnis, President University (PresUniv).

Untuk ICFBE ke-6, Fakultas Bisnis PresUniv berkolaborasi dengan Universitas Triatma Mulya, Badung, Bali. Acara digelar secara hybrid.

ICFBE kali ini mengusung tema Back in Business dan menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri. Pembicara dari luar negeri, di antaranya, editor International Journal of Retail & Distribution Management yang juga profesor di University of Gloucestershire United Kingdom, Prof. Neil Towers; Direktur Women’s Entrepreneurship Research Alliance dan pakar manajemen dari Deakin University Australia Dr. Andrea North-Samardzic, dan Direktur Center for Entrepreneurship and Economic Education di Hawaii Pacific University AS, Gerard H. Dericks.

Para pembicara lainnya adalah Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman; akademisi dan juga pakar bisnis keluarga Dr. Jacob Donald Tan; Direktur di SAGA Retail Group Gary Marcelino Pirono, dan Kepala Program Studi Master of Management Technology PresUniv Anton Wachidin Widjaja.

Berita Terkait : Bos Kadin Pastikan Utamakan Agenda Pemulihan Ekonomi

Adhi mengatakan, saat ini berkembangnya tren baru, yakni plant-based food atau makanan yang berasal dari sumber-sumber nabati. Masyarakat kelas menengah ke atas cenderung memilih makanan yang lebih sehat dan kebanyakan untuk diet. 

“Ini menjadi kesempatan bagi pelaku bisnis makanan dan minuman untuk melakukan inovasi agar dapat menyajikan makanan yang lebih sehat,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi perubahan tren tersebut, lanjut Adhi, para pelaku bisnis membutuhkan dukungan dalam bentuk kebijakan dan peraturan, termasuk inovasi dan teknologi, human capital yang kompeten, memiliki kemampuan yang mumpuni, dan dapat diandalkan. “Kami juga memerlukan dukungan pemerintah dalam hal infrastruktur dan logistik,” tegasnya.

Isu lain yang dibahas dalam konferensi internasional kali ini adalah dampak pandemi terhadap wanita dan entrepreneurship. Andrea North-Samardzic memaparkan hasil risetnya. Kata North-Samardzic, pandemi lebih berdampak kepada wanita ketimbang pria. “Namun, ini justru membuat wanita memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan melatih ketahanan asalkan mereka mampu melihat hal itu sebagai tantangan dan peluang,” tegas dia.

Terkait isu entrepreneurship, Gerard H. Dericks, memberikan beberapa tips untuk menjadi pengusaha yang sukses. Katanya, “Cobalah untuk menemukan hal yang dapat kita nikmati saat kita melakukannya. Lalu, lakukan usaha lebih yang lebih keras,” ujarnya.

Berita Terkait : Catat, Akhir Pandemi Covid-19 Tergantung Perilaku Manusia

Bagi para profesional yang ingin merintis karier sebagai pengusaha, Dericks menyarankan, fokuslah pada satu bisnis lebih dahulu dalam suatu waktu. “Berhentilah bekerja sebagai profesional jika pendapatan dari wirausahanya sudah tiga kali lipat dari gajinya sebagai karyawan,” tegas Dericks.

Sementara Neil Towers memaparkan perlunya mendorong lebih banyak lagi pebisnis baru yang lahir dari lingkungan kampus. Towers juga menjelaskan tentang program Growing Indonesia-a Triangular Approach (GITA) yang sedang dikerjakannya. 

GITA, papar Towers, adalah sebuah konsorsium yang melibatkan tujuh perguruan tinggi dari Indonesia dan empat dari Eropa. Pendekatan triangular yang diterapkan GITA mencakup pengembangan hubungan kerja sama yang efektif antara perguruan tinggi dan perusahaan, menanamkan jiwa kewirausahaan pada seluruh pemangku kepentingan di universitas, serta membangun perusahaan baru dari ide-ide dan inovasi yang berkontribusi pada ekonomi lokal maupun daerah. 

“Ini dilakukan melalui growth hub yang didirikan kampus,” ungkap Towers. Salah satu bentuk growth hub tersebut adalah SetSail BizAcell, sebuah inkubator bisnis yang didirikan pada tahun 2018 oleh PresUniv.

Pada sesi yang membahas tentang family business, baik Jacob Donald Tan maupun Anton Wachidin Widjaja sepakat bahwa bisnis keluarga perlu dikelola secara sistematis dan memiliki nilai serta aturan tersendiri. Kata Jacob, tradisi atau nilai adalah elemen dasar untuk umur panjang dan kesuksesan bisnis keluarga. 

Berita Terkait : Plis, Jangan Maksa Mudik Ya!

“Perlu ada nilai yang tertulis, karena itu berhubungan erat dengan kesuksesan. Ini juga bisa menjadi konstitusi keluarga. Mewujudkannya tidak mudah, tapi itu merupakan ajang rekonsiliasi dalam memelihara hubungan, menjaga harmoni dan sekaligus meningkatkan dinamika dalam bisnis keluarga,” tegas Jacob.

Sekretaris Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP), Prof Jony Oktavian Haryanto mengungkapkan, saat ini pandemi Covid-19 di Indonesia dan berbagai negara hampir berakhir. “Musim dingin segera berlalu, dan musim semi akan segera tiba. Semua orang akan kembali berbisnis, kembali bekerja, sehingga kami berharap dunia dapat segera kembali normal,” katanya.

Sementara, Rektor PresUniv Prof. Chairy mengungkapkan rasa bangganya karena Fakultas Bisnis, PresUniv, dapat terus menyelenggarakan ICFBE, meski Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Katanya, konferensi ini adalah platform terbaik bagi semua sektor terkait untuk mendukung agenda pemerintah dalam memulihkan dan merevitalisasi perekonomian nasional setelah beberapa tahun berjuang menghadapi pandemi.

Chairy optimis, konferensi kali ini akan membuahkan hasil, dan panitia dapat merangkumnya dalam buku prosiding. “Buku ini akan bermanfaat tidak hanya bagi kalangan akademisi dan dunia usaha, tetapi juga para kalangan pemerintahan dan para pemangku kepentingan lainnya,” ucap Chairy.