Dewan Pers

Dark/Light Mode

Krisis Global Makin Serem, 60 Negara Tertekan Utang

Jokowi: Rakyat Harus Tahu, Kondisi Indonesia Masih Sangat Baik

Senin, 20 Juni 2022 18:45 WIB
Presiden Jokowi saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP), di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6). (Foto: Setkab)
Presiden Jokowi saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP), di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6). (Foto: Setkab)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi menginstruksikan jajarannya untuk mewaspadai situasi dunia yang tidak dalam kondisi normal, serta mengantisipasi krisis pangan dan energi.

Arahan tersebut disampaikan Jokowi, saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP), di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6).

 “Krisis energi, krisis pangan, krisis keuangan sudah mulai melanda beberapa negara. Ada kurang lebih 60 negara yang dalam proses menghadapi tekanan karena utang. Ekonominya tertekan. Tidak ada devisa. Sehingga, masuk pada yang namanya krisis ekonomi, krisis keuangan. Inilah yang harus betul-betul kita antisipasi," papar Jokowi, Senin (20/6).

Berita Terkait : Covid-19 Di Negara Tetangga Melonjak Lagi, Indonesia Masih Terkendali

Jokowi meminta jajarannya untuk terus menyampaikan perkembangan situasi global saat ini, kepada masyarakat. Termasuk, krisis yang memicu kenaikan harga komoditas pangan dan energi.

“Sehingga rakyat tahu, posisi kita ini, kalau dibandingkan negara lain, masih pada kondisi yang sangat baik,” ujarnya.

Kepala Negara meminta jajaran terkait, untuk melakukan penghematan. Sekaligus mencegah terjadinya kebocoran pada dua sektor tersebut.

Berita Terkait : Kurikulum Merdeka Tingkatkan Kualitas Pendidikan Di Indonesia Yang Berkeadilan

“Mana yang bisa diefisiensikan, mana yang bisa dihemat. Mana kebocoran-kebocoran yang bisa dicegah. Semuanya harus dilakukan posisi-posisi seperti ini,” ujarnya.

Jangan Bergantung Subsidi

Presiden menyebut, BUMN di sektor energi seperti Pertamina dan PLN harus melakukan efisiensi. Jangan bergantung sepenuhnya pada subsidi pemerintah.

Berita Terkait : Alodokter Luncurkan Diagnosis Kondisi Paru Hanya Melalui Suara Batuk

“Terkait krisis energi, baik itu yang namanya BBM, gas, solar, Pertalite, Pertamax, listrik, ini jangan sampai terlalu mengharapkan, utamanya Pertamina. Terutama juga PLN. Jangan terlalu mengharapkan, dan kelihatan sekali, hanya mengharapkan subsidi di Kementerian Keuangan. Mestinya, di sana juga ada upaya-upaya efisiensi. Jadi dua-duanya berjalan,” ujarnya.

Dalam jangka waktu pendek, Kepala Negara juga meminta jajarannya untuk meningkatkan produksi. Sehingga  tidak bergantung pada impor.

“Sekecil apa pun, seumur-sumur minyak yang ada harus didorong produksinya agar meningkat,” ujarnya. ■