Dewan Pers

Dark/Light Mode

800 Petani Kalteng Ikuti Program Bertani Tanpa Bakar Dan Tanpa Kimia

Sabtu, 2 Juli 2022 14:33 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesadaran masyarakat untuk membuka lahan dan bercocok tanam secara ramah lingkungan semakin meningkat. Salah satunya di Kalimantan Tengah, tepatnya di desa-desa seputar sungai Katingan dan Mentaya.

Di sana, sekitar 800 petani dari 16 desa telah berinisiatif untuk mempraktekkan cara membuka lahan dan bercocok tanam secara berkelanjutan, yakni tanpa membakar dan tanpa memakai bahan kimia atau TBTK (Tanpa Bakar Tanpa Kimia).

Dengan total lahan garapan seluas sekitar 780 hektar, para petani ini tergabung dalam program Sekolah Tani Agroekologi yang digagas oleh PT Rimba Makmur Utama (RMU) melalui Katingan Mentaya Project (KMP), sebuah inisiatif restorasi dan konservasi ekosistem hutan gambut seluas 157.875 hektar di Kalimantan Tengah.

Aliansyah, seorang petani sayur dan buah dan peserta program Sekolah Tani Agroekologi, adalah salah satu contoh petani yang sudah menikmati keuntungan dari hasil panen pertanian organik yang dipraktekkanya.

Berita Terkait : Jokowi Puji Megawati: Auranya Cantik Dan Sangat Karismatik

Ditemui di kebunnya di desa Babaung, Kecamatan Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, dimana ia bercocok tanam jeruk, kacang panjang, cabai dan beberapa jenis sayuran lain, Aliansyah mengungkapkan pengalamannya setelah ikut serta dalam program Sekolah Tani Agroekologi.

Ia menceritakan, awalnya ia bercocok tanam secara non-organik. Namun hasil yang didapat, jauh di bawah harapan. Kondisi tanah yang rusak akibat bahan kimia yang dipakai terus menerus menyebabkan modal yang dikeluarkan untuk perawatan mencapai lebih dari dua kali lipat dari hasil panen waktu itu.

"Saat saya hampir menyerah, saya diperkenalkan pada program STA oleh PT RMU, dan diajak mengikuti temu lapangan di Desa Kelampan. Di sana, saya melihat sendiri hasil dari para petani yang sudah menerapkan praktek pertanian tanpa bakar dan tanpa kimia, dengan panen yang sangat memuaskan," ungkapnya.

Sejak itu, ia tertarik untuk ikut serta program ini. Dan ternyata, hasil yang diperoleh sangat baik. Yang paling memuaskan adalah panen jeruk, di mana dalam 3 bulan ia bisa memanen 1 ton jeruk. "Kini, kebun jeruk saya selalu berbuah sepanjang tahun, tanpa henti, dan tidak mengenal musim.” tuturnya.

Berita Terkait : Jangkauan Pasar Petani Bantaeng Semakin Luas Berkat Jalan Usaha Tani

Aliansyah memaparkan, satu kunci sukses dalam teknik bertanam TBTK adalah perawatan ekstra di awal untuk mengembalikan kondisi tanah dan tanaman yang sudah rusak akibat bahan kimia yang digunakan sebelumnya.

Ia juga harus lebih tekun memotong rumput, karena dalam teknik ini tidak digunakan bahan kimia apapun selama proses penanaman.

Rumput yang dipotong itu kemudian menjadi pupuk organik yang baik bagi kesuburan tanah. Dengan mempraktekkan cara bercocok tanam yang ramah lingkungan, Aliansyah beserta banyak petani lain di Kalimantan Tengah telah menjadi bagian dari solusi mengatasi perubahan iklim.

General Field Manager RMU Taryono Darusman menjelaskan, ekosistem hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang memiliki cadangan karbon tertinggi di dunia, dan sangat penting dijaga sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global.

Berita Terkait : Nerrazurri Bakal Lepas Tiga Pilar

Masyarakat yang bermukim di sekitar area hutan gambut berperan utama dalam menjaga kelestarian hutan, dan upaya konservasi seperti apapun tidak akan efektif tanpa peran serta mereka.

"Itulah yang menggerakkan kami di RMU untuk bekerja sama dengan masyarakat untuk memberikan alternatif cara bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan, yakni tanpa membakar dan tanpa menggunakan bahan kimia," tuturnya.
 Selanjutnya