Dark/Light Mode

Imbas Ketidakpastian Global, Beban Industri Pelayaran Makin Berat

Rabu, 27 Juli 2022 20:49 WIB
Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto. (Foto: Ist)
Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto. (Foto: Ist)

 Sebelumnya 
Tak hanya sampai di situ,  Bos Andhika Lines ini menilai, beban pelayaran nasional semakin berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh di kisaran Rp 15 ribu. 

Pelemahan nilai tukar rupiah ini, lanjut Carmelita, telah menambah beban biaya pelayaran nasional khususnya saat melakukan perawatan kapal.

Baca juga : Kemendikbudristek Pastikan Siswa Aktif Ikuti Pembelajaran Lewat Kurikulum Merdeka

Sebab, biaya sparepart kapal sebagian besar lebih banyak diimpor dan pembeliannya menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Carmelita menilai, beban berat pelayaran nasional seiring kenaikan harga bahan bakar dan pelemahan nilai tukar rupiah perlu dicarikan solusi bersama, baik oleh perusahaan pelayaran nasional, pemerintah, pemilik barang, maupun stakeholder pelayaran lainnya.

Baca juga : Dorong Akses Pembiayaan Rumah, Industri Butuh Bank Syariah Besar

Salah satu solusinya dengan memberlakukan fuel surcharge pada pelayaran kontainer domestik seperti yang diterapkan PT Pelindo dalam pelayanan jasa penundaan di pelabuhan.

"Pemberlakuan fuel surcharge merupakan hal yang logis di industri transportasi. Tentu dalam pemberlakuannya pelayaran nasional mempertimbangkan tingkat daya beli masyarakat sehingga tidak menghambat pemulihan ekonomi nasional," jelasnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.