Dark/Light Mode

Himbara Mitigasi Kebangkrutan SVB & Credit Suisse

Ekonomi RI Lebih Kuat Hadapi Dampak Resesi

Selasa, 4 April 2023 07:30 WIB
Direktur Utama BRI Su­narso. (Foto: dok. Antara).
Direktur Utama BRI Su­narso. (Foto: dok. Antara).

 Sebelumnya 
Terakhir, dari tolak ukur terse­but terlihat bahwa kepercayaan pelaku UMKM terhadap ke­mampuan Pemerintah dalam mengelola ekonomi semakin meningkat. Dilaporkan indeks kepercayaan tersebut naik, dari angka 127 menjadi 138.

Sebelumnya, Sunarso men­jabarkan identifikasi dan pela­jaran yang bisa dipetik dalam kasus SVB dan Credit Suisse. Di antaranya, kedua bank ini mengalami kesulitan likuiditas dan permodalan yang dihasil­kan akibat dari tidak adanya antisipasi terhadap risiko ganda (multiple risk).

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengaku, pihaknya sudah melakukan kajian atas kondisi yang terjadi di industri keuangan belakangan ini.

Darmawan memastikan, tidak ada kemiripan antara Silicon Valley Bank dan Credit Suisse dengan perbankan di Indonesia, yang lebih konservatif dan tidak terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu.

Baca juga : Ekonomi Kuat Jadi Bekal Hadapi Resesi

“Nasabah dan pembiayaan perbankan Indonesia lebih ber­variasi,” ujar Darmawan saat Rapat Dengan DPR Komisi VI, Selasa (28/3).

Dikatakan Darmawan, secara provisioning atau penyediaan, perbankan Indonesia sangat konservatif. Di akhir tahun 2022, rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Bank Mandiri mencapai 311 persen.

Hal itu, memberikan sinyal bahwa kondisi bangsa saat ini sangat sehat dan permodalannya kuat. Selanjutnya, portofolio dan penerapan manajemen perbankan Indonesia dengan Amerika dan Eropa sangat berbeda.

Perbankan Indonesia disiplin menjaga risiko pasar dan memili­ki protokol unrealized loss tidak bisa lebih dari 5 persen.

Baca juga : Mitigasi Risiko Ekonomi, Pemerintah Jaga Ketahanan Pangan Dan Energi

Pendapat yang sama dikata­kan Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David E Sumual. Menurutnya, apa yang sudah berjalan di industri perbankan Tanah Air saat ini sudah dalam kategori yang baik. Terutama yang dilakukan oleh bank-bank besar.

“Saat ini penghimpunan dana, trennya akan tumbuh positif sepanjang tahun ini. Diimbangi ekspansi kredit yang solid,” sebut David kepada Rakyat Merdeka.

David menegaskan, Indone­sia memiliki kecakapan dalam menghadapi krisis. Penyebab utamanya, karena Indonesia sudah beberapa kali berada di posisi krisis ekonomi. Seperti krisis moneter di tahun 1997, kemudian krisis global finansial di tahun 2008, lalu kemarin pada pandemi 2020.

Menyoal kebangkrutan SVB, menurut David, Indonesia ke­mungkinan akan mengalami kerugian dari segi capital mar­ket atau pasar modal. Namun dia menegaskan, pengaruhnya tidak akan mengancam perekonomian nasional.

Baca juga : Ekonomi Kuat Bekal Hadapi Resesi Global

“Sifatnya masih terbatas, karena SVB ini hanya bank kecil di Amerika Serikat,” tuturnya.

Ia pun meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Sebab da­lam sisi permodalan, perbankan Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, yakni 25 persen. Angka tersebut akan menjadi bumper yang cukup kuat untuk perekonomian na­sional Indonesia. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.