Dark/Light Mode

Kasus Eks Dirut Waskita Jadi Warning

Perangi Tikus Di BUMN, Pengawasan Diperketat

Rabu, 10 Mei 2023 07:30 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Antara).
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Antara).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong memperkuat sistem pengawasan. Sebab, dari rentetan keterangan terkait dugaan korupsi di PT Waskita Karya (Persero) Tbk, hal itu terjadi diyakini akibat lemahnya pengawasan.

Pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uni­versitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto melihat, masalah yang menimpa Waskita Karya sudah masuk dalam tindakan kriminal.

“Sistem pengawasan di inter­nal maupun eksternal Waskita Karya lemah sehingga gagal mengendus kasus korupsi di tubuh perseroan,” ucap Toto ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : Menteri Erick: Kami Akan Hormati Proses Hukum

Toto mengaku heran dugaan korupsi yang dilakukan eks Direk­tur Utama (Dirut) Waskita Karya Destiawan Soewardjono, tidak ter­deteksi oleh Dewan Komisaris.

Untuk diketahui, Destiawan telah ditetapkan sebagai tersang­ka kasus dugaan tindak pidana korupsi terkait penyimpangan penggunaan fasilitas pembiayaan dari beberapa bank oleh Kejaksaan Agung (Kejagung)

Selain dari sisi pengawasan in­ternal, menurut Toto, pengawasan eksternal yang dilakukan Kantor Akuntan Publik (KAP) juga dini­lai tidak berpengaruh apa-apa.

Baca juga : Dirut Jadi Tersangka, Waskita Karya Pastikan Kooperatif Dengan Kejagung

“Semua mekanisme pengawasan kelihatan tidak berfungsi. Jargon three lines of de­fense hanya pepesan kosong saja,” sindir Toto.

Lebih jauh ia menyampai­kan, laporan kinerja BUMN Karya Tbk sepanjang tahun 2022 menunjukkan angka yang relatif buruk. Dari empat BUMN, hanya PT Pembangunan Pe­rumahan (Persero) Tbk atau PT PP yang menunjukkan ki­nerja cukup baik, dengan ting­kat penjualan Rp 18,9 triliun. Perusahaan ini masih mampu menghasilkan profit sekitar Rp 271 miliar. Dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk mampu mencatat­kan pendapatan sekitar Rp 13,5 triliun dan mampu menghasilkan keuntungan Rp 81,2 miliar.

Sementara Waskita Karya dengan tingkat penjualan sekitar Rp 15 triliun, malah merugi sekitar Rp 1,2 triliun. Begitu juga dengan Wijaya Karya dengan tingkat pen­jualan sekitar Rp 21 triliun malah merugi sekitar Rp 56 miliar.

Baca juga : Dirut Waskita Karya Tersangka, Erick Thohir: Peringatan Buat BUMN Lain Agar Transparan

“Kinerja buruk Waskita terutama disebabkan beban utang yang terlalu tinggi, sehingga beban bunga menjadi persoalan cukup berat. Angka Debt Equity Ratio (DER) Waskita Karya di tahun 2022 sudah mencapai 453 persen,” jelasnya.

Toto melihat, banyaknya proyek komersial yang dibangun, serta proyek penugasan infrastruktur Pemerintah yang tidak diimbangi sisi equi­ty yang memadai menyebabkan perusahaan terjerembab pada utang yang menumpuk. Situasi serupa juga dihadapi BUMN Karya lainnya.

“Permasalahan yang membe­lit BUMN Karya memerlukan solusi ke depan supaya sustainibility perusahaan negara ini bisa dipertahankan,” ingatnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.