Dark/Light Mode

OJK Stop Restrukturisasi Kredit Akibat Covid

Cadangan BRI Antisipasi Risiko Lebih Dari Cukup

Selasa, 16 Mei 2023 07:30 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso. (Foto: Dok. BRI).
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso. (Foto: Dok. BRI).

 Sebelumnya 
“Angka itu jauh menurun dari kuartal I tahun lalu yang masih mencapai 12 persen dari total kredit. Debitur yang terdampak pandemi terus mengalami pe­mulihan,” ucap Novita dalam rilisnya, kemarin.

Dikatakan Novita, penurunan ini terutama berasal dari sektor-sektor yang paling terdampak pandemi. Seperti restoran, hotel, tekstil dan konstruksi, yang mengindikasikan bahwa bisnis debitur kembali pulih.

Sementara LAR BNI juga menurun, dari 22,1 persen di kuartal I-2022 menjadi 16,3 persen pada kuartal I-2023. Lalu, NPL BNI juga turun menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 3,5 persen.

Baca juga : Jokowi Minta Dibuat Sistem Terpadu Tangani Investasi Di IKN

Bahkan credit cost atau rasio pembentukan Cadangan Keru­gian Penurunan Nilai (CKPN) terhadap kredit turun dari 2,5 persen pada kuartal I-2022 men­jadi 1,4 persen di kuartal I-2023.

Menyoal ini, Direktur Ekse­kutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan, restrukturisasi kredit yang di­lakukan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) melalui ke­bijakan OJK, sangat membantu debitur untuk bertahan dalam pandemi.

Dan pada akhirnya, kata Piter, bank tidak perlu menambah cadangan kerugian akibat kredit macet. Artinya, kredit yang direstrukturisasi tersebut masih terhitung lancar sehingga likuiditas perbankan tetap stabil.

Baca juga : iForte Resmi Tandatangani CSPA Atas Aksi Korporasi Akuisisi Saham Varnion

“Saat ini mulai menuju nor­malisasi, dan penyehatan kem­bali bank,” kata Piter kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dengan kebijakan ini, sam­bung Piter, OJK dan perbankan ikut membantu memperkuat daya tahan dunia usaha, sekaligus sek­tor keuangan dalam menghadapi wabah Covid-19. Padahal selama terjadinya pandemi Covid-19, perbankan juga tidak luput mengalami tekanan likuiditas.

“Semoga proses pemulihan ekonomi terus berlanjut. Dan gejolak global akibat perang dan kenaikan harga komodi­tas tidak mengganggu proses pemulihan ekonomi nasional,” ujar Piter.

Baca juga : Usai Restrukturisasi, Keuangan WSBP Dipastikan Tetap Sehat

Sebab, imbuh Piter, LAR lebih dipengaruhi oleh kondisi perekonomian. Selain karena restrukturisasi, menurunnya LAR lebih disebabkan oleh kondisi ekonomi yang terus membaik seiring meredanya pandemi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.