Dark/Light Mode

Kembali ke Alam: Menggali Potensi Limbah Biomassa menuju Pertanian 0 Rupiah

Rabu, 17 April 2024 13:12 WIB
Pengolahan sekam padi menjadi biochar Si Pembenah Tanah (Sumber: store.patch.io)
Pengolahan sekam padi menjadi biochar Si Pembenah Tanah (Sumber: store.patch.io)

Kenaikan suhu global, bencana banjir, dan kekeringan ekstrem merupakan pertanda bahwa telah terjadi perubahan iklim. Perubahan iklim dipicu oleh pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Berdasarkan Protokol Kyoto, gas CO2, CH4, ­dan N2O adalah sumber gas rumah kaca. Gas COdisebut sebagai gas rumah kaca utama yang menempati atmosfer. Pasalnya, menurut data yang dicatat oleh NOAA, rerata COdi atmosfer secara global telah mencapai 36,8 juta ton atau sekitar 419,3 ppm per tahun 2023. Tidak hanya CO2, gas rumah kaca lainnya, seperti CH4 dan N2O turut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yakni menjadi 1922,6 ppb dan 336,7 ppb. 

Membahas terkait perubahan iklim, tidak satupun aspek kehidupan yang tidak mengalami dampaknya, termasuk sektor pertanian. Pada tahun 2019, IPCC mencatat bahwa 22% emisi gas rumah kaca berasal dari sektor pertanian. Sektor pertanian dapat menjadi aktor penyebab perubahan iklim sekaligus korban yang menerima dampak perubahan iklim. Sebesar 1.500 miliar ton karbon ditemukan tersimpan di tanah. Sementara itu, di atmosfer, jumlah karbon yang tersimpan berkisar 760 miliar ton (European Union, 2011). Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa emisi karbon dari tanah ke atmosfer 10x lipat lebih besar daripada emisi karbon dari bahan bakar fosil. Walaupun demikian, gas  N2O dan CH4 teryata menyebabkan efek rumah kaca yang  lebih kuat yakni masing-masing 300 kali dan 21 kali dari gas CO(European Union, 2011). 

Pada kondisi alami, jumlah emisi karbon melalui tanah yang tinggi akan diimbangi oleh proses alami metabolisme organisme tanah dan tanaman. Namun, apa yang terjadi apabila jumlah tanaman semakin berkurang dan keragaman fauna tanah mengalami penyusutan? Maka saat ini, perlu suatu inisiatif dan strategi untuk melakukan adaptasi maupun mitigasi terhadap dampak perubahan iklim di sektor pertanian.

Mitigasi ditujukan untuk menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca guna mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, perlu disadari bahwa perubahan iklim bersifat fluktuatif dan sangat dinamis, sehingga penyesuaian (adaptasi) sangat diperlukan untuk memperkuat ketahanan, mengurangi risiko dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, pengolahan lahan pertanian harus diterapkan dengan mengadopsi kedua tindakan yang saling melengkapi tersebut.

Selain emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim, tantangan pertanian Indonesia juga terletak pada pemanfaatan limbah pertanian. Sebagai negara agraris dengan komoditas pangan utama yakni padi, Indonesia menghasilkan limbah sekam padi nasional sebesar 22,12 juta ton per tahun 2018 (Maulina et al., 2020). Pemanfaatan sekam padi sebagian besar ditujukan untuk pakan ternak, bahan pembakaran batu bata, atau bahkan dibuang begitu saja karena sifatnya yang sulit terdekomposisi. Padahal, limbah sekam padi memiliki potensi sebagai bahan pembenah tanah dengan melalui proses pembakaran tidak sempurna yang disebut sebagai biochar. Tidak hanya sekam padi, dengan metode pembuatan yang sama, limbah pertanian lain yang sulit terdekomposisi dan kaya akan unsur karbon (lignin) seperti bambu, rating kayu, tongkol jagung, tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit, dan kulit buah kakao juga berpotensi dimanfaatkan sebagai biochar

Baca juga : Ketemu Dubes Saudi, Menag Yaqut Bahas Persiapan Haji 2024 Dan Visa

Pembuatan biochar sendiri tergolong cukup sederhana dan mudah diterapkan dalam skala rumah tangga. Media yang kita perlukan cukup drum yang diberi lubang untuk mengatur panas dan bahan baku berupa limbah pertanian yang telah kering. Namun, apabila ingin memproduksi dalam jumlah besar, media yang digunakan dapat berupa lubang galian pada lahan dengan kedalaman 1,5 m dan lebar 2 m. Untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari proses pembakaran, drum atau lubang yang digunakan diberi tutup sehingga metode yang digunakan disebut sebagai metode pembakaran minim oksigen (pembakaran tidak sempurna). Lama proses pembakaran umumnya membutuhkan waktu sekitar 2-3,5 jam. Kemudian, setelah bahan baku tidak lagi mengeluarkan asap yang banyak, bahan disemprot air untuk menghentikan pembakaran, lalu dijemur hingga kering dan siap diaplikasikan ke lahan (Badan Penelitian dan Pengambangan Pertanian, 2015). 

Tidak hanya limbah pertanian keras, pengolahan limbah pertanian lunak dan berair, seperti dedaunan dan buah yang tidak layak panen juga memiliki potensi yang sama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Limbah organik ini umumnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengalami pembusukan alami. Melalui pembusukan alami (anaerobik) tersebut, timbul masalah baru yaitu keluarnya gas methana (CH4) yang merupakan bagian dari gas rumah kaca. Agar limbah tersebut dapat digunakan sebagai pupuk organik, maka dilakukan pengomposan (pembusukan secara aerobik) (Puger, 2018).

Produksi pupuk dapat memanfaatkan media berupa dua buah galon bekas yang ditumpuk dan simbiosis dengan larva lalat hitam (Hermetia illucens) yang umumnya secara alami muncul pada sampah organik buah maupun daun. Melalui metode ini, dua jenis pupuk secara bersamaan dapat diperoleh yakni pada galon bagian atas, kita dapat memperoleh kompos padat dan di bagian bawah diperoleh pupuk organik cair. Bahkan, larva lalat hitam juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan ternak, baik unggas maupun ikan. 

Melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi biochar, hampir tidak ada limbah pertanian yang berakhir tidak terpakai. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa penambahan biochar ke dalam tanah mampu meningkatkan biomassa mikroba tanah, dan menyediakan sejumlah unsur hara penting bagi tanaman, seperti N, P, K yang umumnya disuplai petani melalui input eksternal berupa pupuk anorganik (Evizal & Prasmatiwi, 2023).

Baca juga : Program Pertanian Jadi Tepat Sasaran

Di sisi lain, penelitian lain menyebutkan bahwa biochar berperan dalam menurunkan laju emisi karbon. Hal ini disebabkan rantai karbon pada biochar sangat stabil, berbeda dengan biomassa lain berbentuk segar yang masih memberikan emisi karbon yang tinggi (Subdiya et al., 2022). Peran yang sama dari limbah pertanian lunak dan berair juga turut meningkatkan produktivitas lahan pertanian sekaligus menekan biaya operasional pertanian. Dengan mengembalikan biomassa pertanian ke lahan (alam) dan menerapkan pertanian tanpa pengolahan intensif, maka alam akan bekerja sebagaimana mestinya dan menghasilkan produksi yang lebih baik. 

Dengan demikian, limbah biomassa pertanian menjadi langkah mitigasi strategis dalam menekan emisi gas rumah kaca dari pertanian, menjadi dan sumber pembenah tanah yang mampu meningkatkan produktivitas hasil panen petani di tengah kondisi lahan yang terdegradasi dan kebutuhan akan pupuk yang mahal. Di masa ini dan di masa yang akan datang, pangan harus tetap berkelanjutan.

Dengan memanfaatkan segala yang telah disediakan oleh alam, termasuk “sampah” yang dihasilkan, keberlanjutan pangan bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Dengan demikian, pemanfaatan limbah biomassa pertanian menjadi salah satu kunci dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) untuk melindungi ekosistem dunia bersamaan dengan pencapaian kesejahteraan petani. Strategi pemanfaatan limbah biomassa untuk pertanian dapat menjadi jawaban atas kebutuhan SDGs, yaitu:

SDG 1: pemanfaatan limbah biomassa mengurangi kemiskinan dengan menciptakan sumber pembenah tanah dan pupuk organik untuk mendukung produktivitas pertanian

SDG 3: petani tetap dapat menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan bernilai jual tinggi tanpa mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk sintetis (anorganik)

Baca juga : Kembali Ke Almamater, Menteri AHY Serahkan Sertipikat Markas Kogabwilhan II

SDG 8: pemanfaatan limbah biomassa pertanian mendorong berbagai pihak untuk bertani bahkan  dalam skala rumah tangga

  • SDG13: penggunaan limbah biomassa sebagai pupuk dan pembenah tanah menjadi langkah penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyimpan karbon di tanah

  • SDG 15: pemanfaatan limbah biomassa membantu mempertahankan keanekaragaman hayati dan ekosistem bawah tanah.

  • Akhirnya, melalui gerakan kembali ke alam, kita mampu menjaga ketahanan pangan sambil memastikan alam kita senantiasa berkelanjutan.
Rivera Fransiska Manik
Rivera Fransiska Manik
Rivera Fransiska Manik

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.