Dark/Light Mode

Amankan Stok Pangan Nasional

Bulog Usul Pemerintah Bikin Kebijakan Jangka Panjang

Minggu, 28 April 2024 07:05 WIB
Ilustrasi Stok Beras. Foto: Dok Bulog
Ilustrasi Stok Beras. Foto: Dok Bulog

 Sebelumnya 
Kendala lainnya, sambung dia, berkaitan dengan masalah pupuk tahun lalu dan awal 2024.

“Ini berkaitan dengan standar mutu hasil panen, kalau tidak sesuai aturan, sulit diserap Bulog,” terangnya.

Terkait impor beras, Bayu mengungkapkan, selama 2024 Bulog telah melakukan setidaknya empat kali tender, yakni total yang sudah dikontrak secara Business to Business (B2B) sebanyak 1,2 juta ton. Lalu, kontrak pengadaan beras secara Government to Government (G2G), sebanyak 1,27 juta ton.

Adapun pengadaan beras tersebut, di antaranya berasal dari Thailand sekitar 55 ribu ton beras dan Kamboja sebanyak 22.500 ton.

Dia optimistis, dengan ketersediaan stok yang ada dikisaran 2,4 juta ton, pihaknya masih bisa memenuhi persiapan kebutuhan pangan di semester II-2024.

Baca juga : Semua Sekolah Kudu Gratis

Bulog masih punya lebih dari 2 juta ton, untuk mengisi kebutuhan di semester dua nanti.

“Kami akan optimalkan pengadaan beras yang sudah ditugaskan Pemerintah tahun ini,” tukasnya.

Terpisah, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi sependapat dengan Bulog.

Menurutnya, memang dibutuhkan strategi dan kebijakan yang mampu memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Terlebih, di tengah perubahan kondisi global saat ini.

“Strategi dan kebijakan terkait pangan perlu ditinjau ulang. Kita bisa meningkatkan produktivitas pertanian yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan,” ujar Azizah kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (27/4/2024).

Baca juga : Indonesia Vs Uzbekistan, Garuda Siap Ukir Sejarah

Azizah melihat, sejauh ini Pemerintah telah banyak mengucurkan bantuan dan subsidi pertanian. Sayangnya, tingkat produktivitas pertanian Indonesia masih saja terbilang rendah.

Produktivitas yang rendah disebabkan di antaranya karena biaya produksi, pengolahan, serta distribusi dalam rantai pasok pertanian tinggi. Selain itu, loss di sepanjang mata rantai pun masih tinggi, akibat infrastruktur yang belum memadai.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan produktivitas padi Indonesia hanya meningkat 0,04 persen tahun 2020, sebelum anjlok 5,26 persen tahun 2021.

Lalu, produktivitas padi ini kemudian bangkit kembali 0,23 persen tahun 2022 dan 0,9 persen tahun 2023, menjadi 52,85 kwintal Gabah Kering Giling per hektar (ha).

Bahkan, dominasi petani kecil di sektor pertanian Indonesia yang sekitar 90 persen turut menghambat peningkatan produktivitas.

Baca juga : Srikandi Bantai Hong Kong

“Terbatasnya sumber daya dan pengetahuan teknis mengenai praktik pertanian modern juga jadi tantangan tersendiri,” sesalnya. IMA

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Minggu, 28 April 2024 dengan judul "Partai Pengusung 01 Dan 03 Diramal Gabung Ke Prabowo Adi Prayitno: Cuma PDIP Dan PKS Yang Siap Beroposisi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.