Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bukukan Kinerja Keuangan Positif
UMKM Dan Konsumer Jadi Mesin Pertumbuhan BNI
Kamis, 2 Mei 2024 07:05 WIB
Sebelumnya
Selain melalui sumber DPK, BNI memanfaatkan positioning yang kuat di pasar internasional untuk memperoleh alternatif pendanaan lain yang lebih luas.
Sebagai langkah strategis ke depan, BNI akan lebih hati-hati dalam menyalurkan kebutuhan kredit berbasis valas dan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah, sambil terus menjaga kualitas portofolio kredit valas.
“Selain itu, BNI juga menerapkan manajemen risiko yang ketat dengan melakukan stress test terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia. Mulai dari pergerakan nilai tukar hingga suku bunga ke depan,” tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Finance BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, fundamental BNI terbukti solid dalam melewati tantangan kuartal I-2024 yang dipengaruhi faktor eksternal.
“Mengawali tahun 2024, kredit BNI utamanya terdistribusi ke segmen kredit korporasi swasta sebesar Rp 272,1 triliun, atau tumbuh 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023,” terangnya.
Baca juga : Airlangga Bicara Kinerja Ekonomi Dan Pemilu Damai
Selain itu, pihaknya juga mencatat penyaluran kredit ke BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sebesar Rp 102,7 triliun atau tumbuh 23 persen dibandingkan kuartal I-2023.
Ekonom senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengatakan, hal yang tepat jika BNI bisa fokus dalam menyalurkan pembiayaan di segmen UMKM produktif.
“Karena pembiayaan ini bukan untuk hal konsumtif, sehingga bisa memberikan potensi profit (NIM/Net Interest Margin) yang baik,” ujar Ryan kepada Rakyat Merdeka, Rabu (1/5/2024).
Apalagi, kata Ryan, tidak semua perbankan bisa menyalurkan kredit ke segmen UMKM.
“Ini hanya berlaku bagi bank yamg punya basis debitur UMKM,” katanya.
Baca juga : DPRD Usul GBK Dan Pelabuhan Tanjung Priok Dikelola DKJ
Ryan mengatakan, dalam menjaga kinerja di tengah kondisi global saat ini, hal yang penting bank-bank harus lebih prudent dan selektif dalam menyalurkan kredit. Berlaku untuk apapun jenis kredit dan penggunaannya.
“Ini untuk menjaga, jangan sampai ada NPL (Non Performing Loan/kredit macet) baru yang membebani bank, karena harus menambah provisi atau CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai),” terangnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, perbankan dan lembaga pembiayaan juga harus melakukan kalkulasi ulang terhadap kegiatan operasionalnya. Terlebih, pasca kenaikan BI (Bank Indonesia) Rate sebesar 25 bps (basis poin) menjadi 6,25 persen.
Perbankan harus tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan kreditur dan debitur, supaya tidak mengganggu aktivitas ekonomi kalangan pelaku usaha.
Kendati begitu, imbuh Ryan, alangkah lebih baiknya jika perbankan melakukan stress test untuk menguji ketahanan atau resiliensi mereka.
Baca juga : Indonesia Vs Irak, Hidup Mati Demi Tiket Olimpiade
“Baik itu terkait dengan meningkatnya risiko geopolitik global, maupun oleh kebijakan moneter terkini,” terangnya. IMA
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Kamis, 2 Mei 2024 dengan judul "Bukukan Kinerja Keuangan Positif UMKM Dan Konsumer Jadi Mesin Pertumbuhan BNI"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya