Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Siapa Bilang Ambles? Untuk Ketahanan Energi Nasional
Ini Sumbangsih Industri Hulu Migas Untuk HUT RI Ke-79
Sabtu, 17 Agustus 2024 13:45 WIB
Sebelumnya
Ketiga, pembangunan Teknologi Digital agar dapat bersaing di era kompetisi industri hulu migas global yang akan semakin ketat. Digitalisasi pengelolaan rantai suplai merupakan salah satu pilar Rencana Strategis hulu migas dan selaras dengan arahan Pemerintah.
“Untuk itu, SKK Migas telah mengimplementasikan IOG E-Commerce yang dimulai untuk pengadaan barang/peralatan dengan nilai sampai 1 miliar rupiah,” terangnya.
Keempat, peningkatan efek multiplier melalui penandatanganan 10 GSA, dengan total nilai 1.2 miliar dolar AS, atau setara 18,9 triliun rupiah, serta penandatanganan 8 Procurement Contract senilai 428 juta dolar AS, setara 6,4 triliun rupiah, yang dilakukan saat pembukaan Supply Chain & National Capacity Summit beberapa hari lalu.
Baca juga : Pertamina Optimalisasi Kilang Untuk Ketahanan Energi Nasional
Kelima, pemerataan ekonomi dan membuka lapangan kerja baru. Industri Hulu Migas melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang berorientasi menciptakan kesejahteraan sosial.
“Pada 2024 ini, telah diperoleh Kesepakatan Anggaran PPM sebesar 35.38 juta dolar AS atau sebesar Rp 530 miliar, naik sebesar 127 persen dari 2023 yang sebesar 27.7 juta dolar AS,” kata Hudi.
Keenam, industri Hulu Migas turut berkontribusi mengurangi emisi karbon. Industri hulu migas telah meluncurkan enam inisiatif untuk pengurangan karbon. Selain program CCS, energy management, Zero Routine Flaring dan lain-lain.
Baca juga : Perkokoh Ketahanan Nasional dengan Kemandirian Pangan
“Setiap tahun, industri hulu migas menargetkan penanaman 2 juta pohon dan sejak diluncurkannya renstra IOG 4.0 pada 2020 telah menanam 8.5 juta pohon,” ujarnya.
Foto: DOK
Hudi mengakui, masih ada tantangan yang dihadapi oleh industri migas kedepan, berupa ketertinggalan produksi migas dari target yang ditetapkan. Selain itu, mash ada gap sangat signifikan yang harus dijembatani, untuk mencapai target produksi Long Term Plan 1 juta barrel of oil per day (BOPD), atau barel (minyak) per hari (BPH), dan 12 BSCFD (kaki kubik per hari).
Untuk 2024, terang Hudi lagi, dari target produksi minyak Long Term Plan (LTP) sebesar 709.000 BOPD, produksi baru mencapai 579.000 BOPD. Artinya, terdapat kekurangan sebesar 130.000 BOPD yang perlu diatasi.
Sedangkan untuk gas, target LTP untuk 2024 adalah 6.736 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day, atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari (gas), tapi produksi saat ini hanya mencapai 5.334 MMSCFD. Ada selisih sebesar 1.402 MMSCFD yang masih perlu diisi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Hudi menekankan pentingnya kolaborasi antara para stakeholder industri migas. Mindset kolaborasi dalam melakukan pekerjaan transformasi ini, tegasnya, sangat penting, karena memang semua pihak harus bergerak bersama untuk satu tujuan.
“Tidak bisa tidak, kita harus berkolaborasi. Sikap ego sektoral dan silo mentality, hanya akan menjauhkan kita dari pencapaian target bersama,” kata Hudi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya