Dark/Light Mode

Wawancara Khusus Dengan Oki Muraza, Senior VP Research, Technology and Innovation PT Pertamina

Pengembangan Biofuel Hidupkan Sentra Ekonomi Rakyat

Senin, 23 September 2024 08:10 WIB
Senior Vice President Research, Technology, and Innovation Pertamina, Oki Muraza. (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka/RM.id)
Senior Vice President Research, Technology, and Innovation Pertamina, Oki Muraza. (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka/RM.id)

 Sebelumnya 
Apa saja tantangan dari pengembangan biodiesel ini?

Kapasitasnya masih terbatas. Bahan baku yang digunakan untuk membuat bioetanol adalah molase (produk sampingan dari industri pengolahan gula, yang biasa disebut tetes tebu). Sumber molase adalah dari pabrik gula. Dan industri gula nasional memiliki banyak keterbatasan.

Saat ini produksi gula kita sekitar 2 jutaan ton per tahun. Dan masih impor 6 jutaan ton. Sehingga, ketersediaan molase-nya juga sangat terbatas. Apalagi, diskusi kami dengan beberapa kementerian, molase itu sekarang digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, antara lain menjadi monosodium glutamate/MSG (penyedap masakan).

Kapasitas nasional bioetanol saat ini, yang pure grade hanya 40 ribuan kiloliter. Itulah yang digunakan Pertamina Patra Niaga untuk di-blending (campur) menjadi 5 persen Pertamax Green.

Jadi, bagaimana cara Pertamina agar bisa terus mengembangan bioetanol dengan keterbatasan sumber bahannya ini?

Baca juga : Resmi Ditetapkan Sebagai Cagub DKI, Pramono Dan RK Bakal Debat 3 Kali

Kami tidak ingin berhenti mengembangkan bioetanol meskipun molase-nya terbatas. Kami pernah diajak untuk harmonisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40/2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati.

Implementasi Perpres ini adalah membuka lahan baru sekitar 700 ribu hektar di Papua, untuk perkebunan tebu. Targetnya 2030 Indonesia akan swasembada gula. Nah, itu salah satu solusi, di mana nanti molase dari pabrik gula akan jadi bioetanol.

Namun, kami juga terus mencari, apa lagi bahan baku lain yang bisa digunakan untuk bioetanol. Kami temukan beberapa jenis yang cukup menarik.

Juli lalu, Pertamina meluncurkan bioetanol dari bahan sorgum. Bagaimana itu ceritanya?

Iya. Di GIIAS 2024 (pameran otomotif terbesar di Indonesia), kami mendemokan bioetanol dari sorgum. Ini bahan yang menarik. Sorgum mudah ditanam dan gampang tumbuh di mana-mana. Kebutuhan pupuk dan airnya juga rendah.

Baca juga : Lucius Karus: Kementerian Mirip Tak Perlu Komisi Baru

Kami bekerja sama dengan kampus, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), dan sejumlah lembaga lainnya.

Kajian tentang sorgum itu sudah banyak. Salah satu contohnya di Lombok. Sorgum bisa tumbuh baik, di lahan yang kering maupun basah. Pengembangan sorgum menghasilkan dua manfaat. Yaitu untuk ketahanan energi melalui pengembangan bioetanol. Sekaligus untuk ketahanan pangan.

Indonesia saat ini masih impor gandum sekitar 9-9,6 juta ton per tahun. Bulir sorgum menggantikan gandum. Daun dan batangnya bisa untuk pakan ternak. Batangnya juga bisa diperas dan difermentasi untuk bioetanol. Sehingga semua bagiannya terpakai dan bermanfaat.

Selain sorgum, Pertamina melirik bahan baku apa lagi untuk pengembangan bioetanol?

Bahan nipah juga menarik. Saya mengirim tim ke Delta Mahakam untuk meneliti Nipah. Di sana Pertamina menanam nipah cukup banyak. Nipah adalah salah satu jenis mangrove. Pagi hari nipahnya dilukai, lalu getahnya akan keluar. Sore harinya, getah diambil atau disadap seperti karet.

Baca juga : Firman Soebagyo: Mesti Ubah Anggaran Jika Nomenklatur Baru

Saat ini kami sedang mencari kampus mana yang bisa mempelajari cara mekanisasinya. Sebab, nipah itu tumbuh di rawa. Perlu orang bolak balik pagi dan sore, lalu getahnya ditampung. Mungkin perlu pompa untuk vacuum. Itu masih pengembangan. Harus dicari dulu teknik mekanisasinya bagaimana. Saya sedang menanyakan ini ke IPB (Institut Pertanian Bogor), apakah ada pakar mengenai mekanisasi pertanian untuk nipah. Sorgum dan nipah ini sangat penting dikembangkan sebagai bioetanol karena tidak saingan dengan kebutuhan pangan.

Selain nipah, juga menarik pengembangan bioetanol dari tandan kosong sawit. Itu termasuk limbah padatan biomassa. Harga tanda kosong sawit itu jenis basahnya saja bisa Rp 50 juta per ton. Tanda kosong sawit ini bahasa kimianya lignoselulos. Kalau di India, lignoselulosnya pakai jerami.

Bahan ini, ligno dan selulosanya dipisahkan dulu. Proses tahapan pertama ini yang biasanya agak mahal. Setelah dipisah, selulosanya dipecah dihidrolisis menjadi glukosa. Dan glukosanya difermentasi jadi bioetanol.

Kami dapat informasi, India membangun empat pabrik untuk proses ini. Tiga di antaranya pakai teknologi dalam negeri mereka. Hanya satu dari teknologi Barat. Memang biayanya besar. Tapi, kalau Pemerintah mau serius mengembangkan ini, Pertamina bisa. India saja bisa sukses. Indonesia pasti bisa.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.