Dark/Light Mode

Ekonom Global Sebut Fondasi Makro RI Makin Solid, IMF & Pasar Kasih Jempol

Kamis, 20 November 2025 10:56 WIB
Hilirisasi memberikan manfaat besar melalui peningkatan nilai tambah seluruh komoditas yang dimiliki Indonesia. (Foto: dok. ESDM)
Hilirisasi memberikan manfaat besar melalui peningkatan nilai tambah seluruh komoditas yang dimiliki Indonesia. (Foto: dok. ESDM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom global Shan Saeed menilai Indonesia berada pada lintasan pertumbuhan kuat, dengan fondasi makro yang semakin solid. Penilaian ini selaras dengan hasil IMF Article IV Consultation 2025, yang menempatkan Indonesia sebagai ekonomi yang tetap resilien di tengah volatilitas global.

Dalam keterangannya, Saeed menyebut proyeksi pertumbuhan 5–5,8 persen pada 2025 dan 5–6 persen pada 2026 sebagai indikasi bahwa stabilitas Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi terus menguat.

“Pertumbuhan 5–5,8 persen pada 2025 dan 5–6 persen pada 2026 menunjukkan Indonesia sebagai ekonomi dengan ketahanan tinggi dan struktur kebijakan yang konsisten,” ujar Saeed dalam keterangannya, Kamis (20/11/2025).

Saeed yang juga Chief Economist IQI Global menilai, kerangka kebijakan pemerintah—meliputi investasi infrastruktur, penguatan industrialisasi hilir, dan peningkatan produktivitas tenaga kerja—telah membentuk basis pertumbuhan yang lebih kokoh dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga : Ekonom Global: Kebijakan Prabowo Bawa Indonesia Jadi Kekuatan Baru di Asia

Ia menyebut bauran kebijakan fiskal dan moneter Indonesia sebagai bentuk “rekayasa presisi” yang menjaga stabilitas makro, sekaligus memperluas daya tarik investasi.

Menurutnya, berbagai indikator utama menunjukkan ketahanan struktural yang signifikan. Bank Indonesia dinilai sukses menjalankan pelonggaran terukur sambil menjaga stabilitas eksternal, didukung inflasi yang stabil di sekitar 2,8 persen, dengan cadangan devisa yang kuat dan nilai tukar rupiah yang relatif terjaga.

Selain itu, regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga disebut memperkuat kepastian pasar melalui percepatan perizinan dan pendalaman arus investasi ke sektor hilirisasi minerba, kendaraan listrik, digital finance, dan transisi energi.

Sejalan dengan itu, Saeed melihat respons pasar keuangan sebagai validasi terhadap arah kebijakan Indonesia. Dia merujuk pada pergerakan IHSG yang bertahan di area 8.100–8.300 serta aliran modal asing yang tetap solid.

Baca juga : Ekonom: Data Ekonomi Solid, Rupiah Dan Pasar Saham Kuat

“Pasar tidak hanya merespons, mereka juga memvalidasi kerangka makro Indonesia,” tegasnya.

Pandangan Saeed semakin relevan, setelah IMF menegaskan Indonesia tetap menjadi bright spot di tengah tantangan global dalam hasil konsultasi Article IV 2025.

Konsistensi antara penilaian IMF dan sentimen pasar disebut memperkuat persepsi, bahwa Indonesia berada pada jalur kebijakan yang kredibel dan berorientasi jangka panjang.

Dalam proyeksinya, Saeed menyebut stabilitas akan menjadi aset strategis Indonesia di tahun-tahun mendatang. Ia menggambarkan stabilitas tersebut sebagai “mata uang strategis” yang memperkuat posisi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045.

Baca juga : Hilirisasi Makin Digeber, Investasi Tembus Rp 10 T

Kejelasan kebijakan, konsistensi regulasi, dan disiplin fiskal dinilai menciptakan lingkungan yang “secara struktural investable.”

Dengan fondasi makro yang terus menguat dan validasi berulang dari lembaga internasional maupun pelaku pasar, Saeed menilai Indonesia berada pada posisi yang menguntungkan untuk mempertahankan ketahanan ekonomi, serta menarik investasi berkualitas pada fase transformasi berikutnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.