Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Giliran Rupiah Menguat, IHSG Melemah, Ekonomi Naik Turun
Rabu, 28 Januari 2026 07:50 WIB
Sebelumnya
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 masih dipengaruhi dampak lanjutan kebijakan tarif impor Amerika Serikat serta kerentanan rantai pasok global. Meski demikian, prospek ekonomi membaik berkat investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta stimulus fiskal berupa pengurangan pajak.
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2025 dan 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi Oktober 2025. “Namun, ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat, terutama dipicu ketegangan perang dagang dan eskalasi tensi politik,” tambahnya.
Terkait IHSG yang turun, Purbaya meminta investor tak ragu untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia. “Jangan takut walaupun kemarin turun, pasti naik lagi. Karena pada dasarnya IHSG adalah arah ekonomi kita,” kata Purbaya.
Baca juga : Tangkap Dan Miskinkan Bandarnya
Ia mengingatkan, target-target IHSG yang dulu dianggap terlalu optimistis, kini mulai terbukti. Purbaya menceritakan pengalamannya saat pernah menyampaikan proyeksi IHSG di level 9.000, yang kala itu banyak pihak yang meragukan. Namun, kenyataannya IHSG sudah menembus level tersebut.
Hal serupa juga terjadi ketika ia menyebut dalam satu siklus 10 tahun, IHSG berpotensi naik hingga empat kali lipat ke 32.000. “Anda boleh ngetawain, tapi jangan lupa investasi. Nanti nyesel,” ujarnya.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus menguat. “Kami memperkirakan rupiah akan terus menguat,” kata Perry di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Kami Akan Formulasikan Lewat Kodifikasi 3 UU
Selain itu, ia memperkirakan inflasi akan tetap rendah dan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi akan membaik dengan imbal hasil investasi yang menarik serta komitmen BI dalam menstabilkan dan mengarahkan rupiah ke level yang lebih kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan rupiah turut didorong sentimen eksternal. Pasar saat ini berfokus pada pertemuan kebijakan Federal Reserve selama dua hari yang dijadwalkan berakhir Rabu (28/1/2026).
Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga setelah tiga kali pemangkasan berturut-turut pada pertemuan sebelumnya. “Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua The Fed Jerome Powell, yang memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral dari tekanan politik, juga menjadi sorotan,” tulis Ibrahim dalam risetnya Selasa (27/1/2026).
Baca juga : Iman Zanatul Haeri: Tak Menyentuh Angka Kebutuhan Minimum
Di sisi lain, investor asing masih berada pada posisi wait and see, salah satunya dengan mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai kurang berhati-hati. Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.760–Rp 16.790 per dolar AS. [FAQ/MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya