Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah.
Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah bahkan tembus Rp 17.300 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah 0,23 persen ke level Rp 17.249 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026) di level Rp 17.221 per dolar AS.
Baca juga : Stoknya Mencapai 5 Juta Ton, Amran Yakin Tidak Ada Manipulasi Data Beras
Rupiah kembali tertekan setelah pembukaan. Pada pukul 10.33 WIB, rupiah menyentuh level Rp 17.304 per dolar AS.
Rupiah ditutup makin melemah. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup melemah 0,75 persen ke level Rp 17.308 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut berada di atas asumsi nilai tukar yang ditetapkan pemerintah. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni Rp 16.500 per dolar AS.
Baca juga : AS Agresif, Iran Pasif
Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan, pemerintah akan terus memantau pergerakan rupiah. Ia menilai, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga mata uang regional.
“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).
Menurut dia, pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal, terutama ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. “Kita monitor saja dan itu BI tugasnya menjaga,” ujarnya.
Baca juga : Gelombang I Petugas Haji Tiba Di Makkah, Siap Sambut Jemaah Haji
Senada dikatakan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Dia menyebut, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional.
Ia memastikan, BI akan meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya