Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (Non-Deliverable Forward/NDF), pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder,” jelas Destry dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, cadangan devisa (cadev) Indonesia tetap kuat sebesar 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026. “BI senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dampak ketegangan AS-Iran memberikan tekanan terhadap rupiah melalui kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta tingginya imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Kondisi tersebut memengaruhi aliran modal global ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga : Stoknya Mencapai 5 Juta Ton, Amran Yakin Tidak Ada Manipulasi Data Beras
Untuk meredam volatilitas, BI memperkuat bauran kebijakan dari sisi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
BI juga meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing dan memperkuat ketahanan eksternal.
Kebijakan moneter juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan uang primer (M0) di atas 10 persen guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang. Pada Maret 2026, pertumbuhan M0 tercatat 11,8 persen secara tahunan.
Baca juga : AS Agresif, Iran Pasif
Di sisi lain, kata dia, BI mengarahkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui insentif likuiditas makroprudensial.
Melalui bauran kebijakan tersebut, BI menargetkan pertumbuhan ekonomi tetap berada pada kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026, dengan inflasi di level 1,5–3,5 persen. Defisit transaksi berjalan dijaga pada kisaran 0,5–1,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara pertumbuhan kredit ditargetkan 8–12 persen.
“Secara fundamental, nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, inflasi rendah, imbal hasil menarik, serta komitmen BI menjaga stabilitas,” ujar Perry.
Baca juga : Gelombang I Petugas Haji Tiba Di Makkah, Siap Sambut Jemaah Haji
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu kegagalan upaya damai antara Iran dan AS. Kondisi tersebut membuat ketegangan di Timur Tengah meningkat dan mendorong kenaikan harga minyak. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya