Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bukan Lagi Sekadar Tambang
MIND ID Ubah Mineral Papua Jadi Mesin Hilirisasi Dan Kedaulatan Indonesia
Selasa, 4 Agustus 2026 08:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - BUMN Holding Pertambangan Indonesia, MIND ID melalui anak perusahaannya PT Freeport Indonesia (PTFI) terus bertransformasi dalam hilirisasi menuju kedaulatan mineral Indonesia.
PTFI yang selama puluhan tahun identik dengan tambang emas dan tembaga di Papua, kini bergerak menjadi pemain strategis dalam hilirisasi mineral, penguatan industri nasional, green mining, pemberdayaan masyarakat hingga inovasi pemanfaatan limbah tambang.
Transformasi tersebut bukan sekadar klaim. Dari hulu hingga hilir, PTFI terus membangun rantai nilai mineral di dalam negeri, mulai dari tambang bawah tanah Grasberg, smelter di Gresik, Precious Metal Refinery (PMR), pemanfaatan tailing, pengembangan kontraktor lokal, rehabilitasi lingkungan hingga proyeksi penerimaan negara yang dapat menembus Rp 120 triliun per tahun.
Namun, transformasi tersebut juga menghadapi ujian. Keselamatan pekerja tambang, pengelolaan tailing, kesejahteraan masyarakat Papua, legalitas aktivitas pendulangan hingga pemanfaatan mineral ikutan menjadi problem besar yang tidak bisa ditinggalkan.
Direktur Utama PTFI Clayton Allen Wenas memaparkan perkembangan smelter, proyeksi produksi, kontribusi fiskal, pengelolaan tailing serta langkah perusahaan memperkuat aspek keselamatan dan keberlanjutan operasi.
Baca juga : Danantara Dan IFG Gaspol Konsolidasi Asuransi BUMN
Pemaparan tersebut disampaikan pengusaha yang akrap disapa Toni Wenas ini dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi XII DPR RI, di Kompleks Senayan, Selasa (14/7/2026).
Rapat membahas progress smelter, realisasi, dan outlook 3 tahun produksi tambang dan smelter. Toni menjelaskan, pembangunan smelter PTFI di Gresik menjadi salah satu bukti paling nyata pergeseran orientasi bisnis Freeport dari sekadar menambang dan menghasilkan konsentrat menuju pemurnian mineral di dalam negeri.
Smelter baru tersebut memiliki cakupan proyek dengan kapasitas pengolahan sekitar 1,7 juta ton konsentrat per tahun. Kapasitas itu kemudian diperkuat dengan ekspansi fasilitas PT Smelting sebesar 300 ribu ton konsentrat per tahun.
Dengan tambahan tersebut, terdapat sekitar 2 juta ton konsentrat tambahan yang dapat diproses. Jika digabungkan dengan kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sejak 1997 dengan produksi mencapai sekitar 1 juta ton konsentrat per tahun, total kapasitas konsentrat PT FI yang dapat dimurnikan di Indonesia mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.
“Total konsentrat yang bisa dimurnikan di dalam negeri yang dimiliki oleh PT Freeport adalah totalnya 3 juta ton per tahun,” ungkapnya.
Baca juga : Aturan Direvisi Untuk Beri Kepastian Hukum
Transformasi hilirisasi tersebut tidak berhenti hanya pada pembangunan smelter. PTFI juga membangun Precious Metal Refinery (PMR) untuk memurnikan bijih tambang yang mengandung emas, perak dan sejumlah logam kelompok platinum.
Teknologi yang digunakan menunjukkan peningkatan kapasitas pengolahan mineral berbasis teknologi modern. Smelter menggunakan teknologi Double Flash Smelting and Converting, sedangkan pemurnian emas dan perak menggunakan teknologi hydrometallurgy.
Dari fasilitas tersebut, produk yang dihasilkan tidak lagi hanya berupa konsentrat, melainkan katoda tembaga, emas murni, perak murni batangan serta platinum group metals.
“Produk yang dihasilkan dari smelter dan PMR tersebut adalah katoda tembaga, emas murni, perak murni batangan, dan juga platinum group metals,” ujar Toni.
Smelter baru diproyeksikan menghasilkan sekitar 600 ribu ton katoda tembaga per tahun. Jika digabungkan dengan produksi PT Smelting, kapasitas katoda tembaga yang dapat dihasilkan mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun.
Baca juga : Menembus Pegunungan Papua, Kementerian PU Kebut Jalan Mamberamo–Elelim
Sementara PMR diproyeksikan menghasilkan sekitar 50 ton emas per tahun yang seluruh produksinya direncanakan di-offtake ke anak perusahaan MIND ID lainnya, diantaranya PT Aneka Tambang (Antam).
Produksi perak diperkirakan mencapai 200 ton per tahun, platinum sekitar 30 kilogram, paladium sekitar 375 kilogram, selenium 285 ton, bismut 220 ton dan timbal sekitar 2.200 ton per tahun.
Proses hilirisasi dari PMR ini juga menghasilkan produk samping dalam jumlah besar. Asam sulfat diproyeksikan mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun, copper slag sekitar 1,3 juta ton dan gipsum sekitar 150 ribu ton per tahun.
Dengan demikian, hilirisasi Freeport mulai membentuk rantai nilai baru. Mineral yang berasal dari Papua tidak berhenti sebagai konsentrat, tetapi diproses menjadi berbagai komoditas bernilai tambah sekaligus membuka ruang bagi industri lanjutan di dalam negeri.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya