Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dampak Anjloknya Minyak Dunia
Kemenkeu Waswas Defisit APBN Tembus 12,2 Triliun
Kamis, 23 April 2020 08:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga minyak mentah dunia yang terus menurun diprediksi akan menambah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 12,2 triliun.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, harga minyak mentah dunia terus menurun sejak, Senin, 13 April 2020, terutama jenis West Texas Intermediate (WTI).
Pada Rabu (22/04), harga WTI kontrak Mei berada pada level negatif (sempat -37 dolar AS per barel).
Penurunan disebabkan, oleh permintaan global yang semakin menurun dan sentimen negatif yang berasal dari proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang kontraktif.
Baca juga : Bank Dunia Ramal Penduduk Miskin Bertambah 11 Juta
“Harga minyak mentah dunia tentu berpengaruh ke harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP), meski saat ini sedikit di atas harga minyak Brent. Perubahan ICP akan berdampak terhadap APBN mengingat baseline asumsi harga ICP dalam Perpres 54/2020 yakni 38 dolar AS/barel untuk harga rata-rata sepanjang tahun 2020,” kata Febrio dalam keterangan tertulisnya, kemarin.
Ia melanjutkan, jika harga terus mengalami penurunan, sehinga ICP menjadi 30,9 dolar AS/barrel (rata-rata setahun), maka defisit diperkirakan bertambah Rp 12,2 triliun.
Karena itu, sambung dia, pemerintah terus melakukan pemantauan untuk melakukan kebijakan antisipatif, termasuk pengendalian defisit.
“Salah satunya, melalui evaluasi atas belanja nonproduktif, dan mengambil langkah-langkah mitigasi untuk menjaga kesinambungan fiskal dan pertumbuhan ekonomi,” tegas Febrio.
Baca juga : Duh, Defisit APBN Sudah Tembus Rp 369 Triliun
Seperti diketahui, melalui Peraturan Presiden No. 54 tahun 2020, pemerintah melebarkan defisit anggaran menjadi Rp 852,9 triliun, atau setara 5,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari yang sebelumnya hanya sebesar Rp 307,2 triliun atau 1,76 persen dari PDB.
Pelebaran defisit dikarenakan pemerintah mengubah target penerimaan negara menjadi Rp 1.760,9 triliun dari sebelumnya Rp 2.233,2 triliun.
Target itu terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.462,6 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 297,8 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp 500 miliar.
Dengan adanya perkiraan bertambahnya defisit Rp 12,2 triliun karena harga minyak ini, maka defisit APBN 2020 diprediksi menjadi Rp 865,1 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya, menjelaskan, di kuartal pertama realisasi APBN sudah mengalami defisit Rp 76,4 triliun, atau 0,45 persen dari produk domestik bruto tahun ini.
Baca juga : Tim Indonesia Juara Dunia Kompetisi E-Sport PUBG Mobile
Defisit ini terjadi karena selama periode tersebut, realisasi pendapatan negara tercatat hanya Rp 375,9 triliun atau tumbuh 7,7 persen dibanding periode sama tahun lalu, dan 16,8 persen dari keseluruhan target APBN setahun.
Sementara, belanja negara mencapai Rp 452,4 triliun atau hanya tumbuh 0,01 persen dan setara dengan 17,8 persen dari total target APBN setahun.
“Sementara keseimbangan primer hingga 31 Maret 2020 minus Rp 2,6 triliun, menguat dibanding periode sama tahun lalu yang minus Rp 32,5 triliun,” ujar Sri Mulyani.
Menkeu juga memprediksi, sampai akhir tahun penerimaan negara akan turun di tengah belanja negara yang ditambah. “Jadi kita prediksi pendapatan negara bisa turun 10 persen, bukannya naik tapi negative growth,” tegasnya. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya