Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
2019 Bakal Ada Aliran Modal Masuk & Rupiah Stabil
BI Diharap Tidak Lagi Ngotot Kerek Repo Rate
Senin, 19 November 2018 15:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di kala prediksi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) bulan depan semakin menguat, Bank Indonesia (BI) justru mengisyaratkan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate (repo rate) tidak naik. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menegaskan, pihaknya tidak selalu merespons kenaikan FFR Desember dengan langsung mengerek repo rate. “Kita lihat saja nanti. Bisa saja kenaikan cukup pada November ini,” terang Dody, dalam pelatihan wartawan ekonomi nasional akhir pekan kemarin di Solo.
Menurutnya, dengan prinsip BI selama ini seperti pre-emptive, a head the curve dan front loading,maka jangan pernah berpikir Bank Sentral akan selalu merespons FFR. “Saya tidak pernah katakan, jika FFR naik besok, maka BI akan mengawali kenaikan repo rate hari ini. Karena BI selalu data dependence,” tutur Dody lagi.
Lalu ia mengisahkan kebijakan BI yang tidak selalu mengekor FFR. Kala itu sebelum Juli tahun lalu, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) sempat menaikkan FFR hingga dua kali. Namun BI memutuskan menahan repo rate. “Yang terjadi malah arus modal masuk (cash inflow). Kita juga mengalami apresiasi nilai tukar rupiah waktu FFR naik. Kembali ke soal Desember nanti, kami tidak akan head to head dengan FFR, karena BI selalu melihat data secara makro dan ini menjadi dapur BI,” tegasnya.
Baca juga : Investor Sebut Rp 6,4 T Hanya Modal Awal Saja
Namun yang pasti, imbuhnya, saat ini pasar tengah menantikan hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dalam pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina akhir bulan ini. “Kita harapkan ada hasil positif yang mempengaruhi pasar keuangan global. Dan sudah ada indikasi hasil positif akan terjadi. Emerging markets, termasuk Indonesia, mengalami inflow dua minggu terakhir, khususnya di saham, surat utang negara, dan corporate bond,” beber Dodi.
“Kita harapkan ada hasil positif yang mempengaruhi pasar keuangan global. Dan sudah ada indikasi hasil positif akan terjadi. Emerging markets, termasuk Indonesia, mengalami inflow dua minggu terakhir, khususnya di saham, surat utang negara, dan corporate bond,” beber Dodi.
Di tempat yang sama, Chief Economist and Invetsment Strategist PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat melihat, BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan di bulan depan. Soalnya, ada potensi nilai tukar rupiah masih akan stabil, sehingga tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk mengerek repo rate. “Market itu biasanya hijau pada Desember, artinya ada capital inflows. Jadi BI tidak perlu menaikkan (suku bunga acuan),” tutur Budi.
Baca juga : Menteri Rini Puji PLN Lolos Dari Tantangan
Pun begitu dengan tahun depan. Dia berharap BI tidak seagresif mengerek repo rate seperti tahun ini, kendati 2019 The Fed memberi sinyal kuat akan ada kenaikan FFR sebanyak tiga kali. “So far saya liat BI sudah prudence. Kemudian acuan normatif lainnya, jangan sampai suku bunga BI jauh lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Karena jika suku bunga acuan lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi, yang berada di kisaran 5 persenan, maka akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Tanah Air. “Makanya saya masih berharap ke depan BI tidak seagresif tahun ini,” katanya. Budi meramal, tahun depan akan ada aliran modal kembali ke emerging market. Tetapi Indonesia perlu meyakinkan investor untuk menjadi pilihan utama bagi investor tersebut.
Dia mengatakan, defisit neraca perdagangan yang dialami Indonesia saat ini menjadi sorotan bagi investor. Lembaga otoritas harus menunjukkan komitmen memperbaiki defisit transaksi berjalan tersebut. Sehingga diharapkan berhasil meyakinkan investor untuk menyimpan dananya di sini.
Baca juga : Apindo: Ekspor Sawit Kita Bisa Terancam
Untuk diketahui, The Fed pada akhir September menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin (bps), dari 2 persen jadi 2,25 persen. Sehari setelahnya, BI melalui hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) juga menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reserve Repo Rate sebesar 25 bps, dari 5,5 persen jadi 5,75 persen. Lalu pekan kemarin BI kembali mengerek repo rate 25 bps, hingga menjadi 6 persen. Sehingga total sepanjang tahun ini Bank Sentral telah menaikkan repo rate sebanyak 175 bps. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya