Dark/Light Mode

Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

BI Keluarkan Lima Jurus Pamungkas

Rabu, 23 Desember 2020 06:10 WIB
Tangkapan layar - Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2021 di Jakarta, Selasa (22/12/2020). (Foto : Tangkapan layar Youtube PerekonomianRI/pri).
Tangkapan layar - Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2021 di Jakarta, Selasa (22/12/2020). (Foto : Tangkapan layar Youtube PerekonomianRI/pri).

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) optimis ekonomi Indonesia tahun depan kembali ke jalur positif ke level pertumbuhan 4,8-5,8 persen. Karena itu, Gubernur BI Perry Warjiyo punya lima jurus pamungkas guna mendukung pemulihan ekonomi nasional pada 2021.

Pertama, BI tetap melanjut­kan stimulus moneter. Tentunya dengan tetap menempuh kebi­jakan suku bunga rendah dan likuiditas longgar, hingga ada tanda-tanda kenaikan inflasi.

Seperti diketahui, BI sepanjang 2020 telah memangkas suku bunga acuan hingga men­capai level terendah, menjadi 3,75 persen.

“Kami juga sudah melakukan pelonggaran likuiditas (quan­titative easing) dalam jumlah yang besar Rp 694,9 triliun, atau 4,49 persen Produk Do­mestik Bruto (PDB). Ini salah satu yang terbesar di emerging market,” kata Perry saat diskusi bertajuk Outlook Perekonomian Indonesia 2021: Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi 2021 di Jakarta, kemarin.

Selain itu, Perry mengatakan, kebijakan untuk menjaga stabili­tas nilai tukar rupiah juga akan tetap dilanjutkan.

Berita Terkait : Pengembang Didorong Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional

Menurut Perry, nilai tukar rupiah masih berpotensi menguat karena secara fundamental masih undervalued.

Tentunya, dengan didukung transaksi defisit berjalan dan inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik dan premi risiko yang semakin membaik.

Sementara, jurus kedua, BI akan melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pembiayaan dan ekonomi.

Pada 2020, BI telah melaku­kan berbagai pelonggaran terkait kebijakan makropruden­sial, seperti pelonggaran uang muka kredit dan dari sisi li­kuiditas.

Saat ini, BI dalam proses merumuskan kebijakan makroprudensial yang juga dapat mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif.

Berita Terkait : Airlangga Pede RI Keluar Dari Resesi

Jurus ketiga, BI akan melan­jutkan sinergi dengan pemerintah untuk berpartisipasi dalam pembi­ayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan melanjut­kan skema pembagian beban atau burden sharing, sesuai dengan keputusan bersama pada 16 April 2020.

Yaitu, pembelian Surat Ber­harga Negara (SBN) oleh BI sesuai dengan mekanisme pasar. Di mana BI sebagai pembeli siaga atau noncompetitive bidder.

“Di 2020 ada dua mekanisme pendanaan APBN, yaitu pem­belian melalui mekanisme pasar sebagai pembeli siaga dan pem­belian langsung,” jelas Perry

Menurutnya, pembelian lang­sung hanya berlaku tahun ini. Tapi pembelian melalui mekanisme pasar masih bisa berlangsung hingga 2021 dan 2022.

Berita Terkait : Kendaraan Listrik Kurangi Impor BBM Dan Bebas Polusi

Jurus keempat, BI akan mendu­kung pembiayaan pembangunan dari sektor keuangan. BI akan mendorong kontribusi sekor keuangan yang lebih besar da­lam pembiayaan perekonomian. Khususnya untuk pembiayan jangka panjang. Baik dalam bentuk obligasi maupun sekuritisasi melalui program pasar keuangan.

Untuk jurus kelima, lanjut Perry, BI akan terus mendorong digitalisasi ekonomi dan keuangan digital. Salah satunya, BI me­nargetkan 12 juta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bisa teregistrasi secara nasional dalam penggunaan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) pada 2021.

Selain itu, BI dalam proses menyambungkan digital banking dan financial technology (fintech) melalui interlink kedua layanan.

“Kami juga membangun BI fast payment, sehingga bisa cepat menyelesaikan berbagai transaksi ritel dan UMKM se­cara digital,” kata Perry. [KPJ]