Dark/Light Mode

Genjot Ekspor, KKP Tebar 14,27 Juta Benur Udang Di Tujuh Lokasi

Kamis, 31 Desember 2020 10:05 WIB
Budidaya benur udang terus ditingkatkan untuk membantu pemulihan ekonomi.
Budidaya benur udang terus ditingkatkan untuk membantu pemulihan ekonomi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot nilai ekspor udang di masa pandemi Covid-19. 

Kementerian yang dipimpin Sakti Wahyu Trenggono ini menebar sebanyak 14,27 juta ekor benur udang perdana di tujuh lokasi model tambak udang berkelanjutan yang tersebar di berbagai daerah. 

Program kawasan udang ini sudah terintegrasi dan diawasi ketat untuk mencegah terjadinya penyimpangan. 

"Tambak udang berkelanjutan ini merupakan kawasan tambak ideal karena terdiri dari petak pengelolaan air bersih, produksi, pengelolaan air limbah dan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan penyangga untuk mewujudkan budidaya perikanan berkelanjutan dan ramah lingkungan," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto dalam siaran pers di Jakarta, dikutip Antara, Kamis (31/12).

Berita Terkait : Kasus Suap Edhy Prabowo, KPK Sita Rp 16 M Plus Lima Mobil

Slamet memaparkan, tujuh lokasi tambak udang yag terdiri dari lima tambak udang model klaster yaitu di Kabupaten Aceh Timur, Lampung Selatan, Cianjur Jawa Barat, Sukamara Kalimantan Tengah dan Kabupaten Buol, Sulawesi Selatan.

Lalu, ada di dua lokasi model tambak Milenial Shrimp Farming (MSF) di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dan Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Ia mengungkapkan, jumlah benur udang yang ditebar di tujuh lokasi tersebut sebanyak 14,27 juta ekor dengan luas tambak sekitar 35 hektar. Rata-rata kepadatan benur sekitar 100 ekor per meter persegi.

Program benur udang ini akan direplikasi oleh masyarakat dan investor dalam rangka menggenjot nilai ekspor udang sebesar 250 persen pada tahun 2024.

Baca Juga : Pabrik Hyundai Di Cikarang Siap Produk Mobil Listrik Tahun Depan

Slamet menuturkan, kegiatan tebar udang ini rata-rata sebesar 100 ekor per meter persegi.

"Estimasi panen size 50 sehingga jumlah produksinya sebesar 209 ton per siklus atau sekitar 419 ton per tahun dengan nilai produksi Rp 12,5 miliar per siklus atau Rp 25,13 miliar per tahun," katanya.

KKP akan melibatkan secara langsung anggota kelompok pembudidaya penerima bantuan dan kaum milenial dalam proses pemeliharaan sebagai upaya transfer teknologi.

Konsep klaster itu, diyakini pengelolaanya lebih terkontrol secara ketat dengan manajemen pengelolaan yang lebih terintegrasi dalam seluruh tahapan proses produksi.

Baca Juga : Kalbe Dapat Izin Uji Klinik Fase 2 Covid-19

"Model ini juga mempermudah dalam manajemen, meningkatkan efisiensi serta dapat meminimalisasi dampak terhadap lingkungan dan serangan penyakit," jelas Slamet.

KKP menargetkan, akan mengoptimalkan lahan tambak minimal 100.000 hektar sampai tahun 2024. KKP juga, akan memutakhirkan teknologi guna mengangkat produktivitas tambak tradisional. [FIK]