Dark/Light Mode

Ekonomi Darah Rendah

Lutfi Suntikkan Vitamin

Senin, 18 Januari 2021 08:02 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Foto: Dok. Kemendag)
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (Foto: Dok. Kemendag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi merasakan betul lesunya ekonomi imbas dari pandemi Corona. Daya beli masyarakat lemah, ekspor-impor turun, pertumbuhan pun anjlok. Lutfi mengibaratkan, kondisi saat ini seperti orang darah rendah. Untuk mengatasi hal ini, Lutfi menyuntikkan berbagai vitamin agar ekonomi bergeliat kembali.

Dalam wawancara khusus secara virtual dengan Rakyat Merdeka, kemarin, Lutfi menjelaskan secara gamblang mengenai kondisi ekonomi kita. Mulai dari data-data kondisi di lapangan, tantangan, peluang, sampai jurus-jurus untuk mendongkraknya.

Di awal paparannya, Lutfi mengaku mendapat tiga pesan khusus dari Presiden Jokowi, yang menunjuknya dalam reshuffle kabinet, 23 Desember lalu. Pertama, memastikan daya beli masyarakat terjamin dengan menanggulangi fluktuasi harga. Kedua, membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa ekspor. Ketiga, membuka pasar non-tradisional.

Berita Terkait : Lutfi Sudah Siapkan Rompi Anti Peluru...

Setelahnya, Lutfi menerangkan komposisi yang membentuk Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) berikut angka-angkanya. Pertama, belanja pemerintah, dengan kontribusi saat ini sekitar 9-10 persen. Kedua, konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi 54-55 persen. Ketiga, investasi, dengan kontribusi 33 persen. Keempat, ekspor-impor, dengan kontribusi 34 persen. 

Menurut Lutfi, angka-angka tersebut menunjukkan perekonomian tidak sehat. "Ini kebalik. Kalau yang sehat, ekspor-impornya di atas 50 persen. Sedangkan konsumsi rumah tangga di angka 30-40 persen. Seperti negara-negara maju yang sudah ada," terang mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat itu.

Untuk memperbaikinya, kata Lufti, ada dua poin krusial yang harus diperhatikan, yaitu konsumsi rumah tangga dan ekspor-impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan sepanjang tahun lalu, memang surplus 21,74 miliar dolar AS. Namun, surplus tersebut terjadi bukan karena jumlah ekspornya naik. Melainkan karena impornya anjlok.

Berita Terkait : SBY Ngingetin Bukan Nakutin

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) era Presiden SBY itu, surplus sebesar ini pernah terjadi ketika krisis 1998. Surplus seperti ini tidak membantu. Sebab, impor bahan-bahan baku tidak jalan.

Lutfi menerangkan, dari total impor, sekitar 66,7-70 persen merupakan bahan baku dan bahan penolong. Ketika impor tersendat, industri dalam negeri tidak jalan. “Kalau kita cekek bahan baku dan bahan penolong, ada multiplier effect yang terganggu," terangnya.

Menurut catatannya, ada 70 persen multiplier effect terganggu akibat turunnya impor. Jika kondisi ini terus berlangsung, tidak ada pertumbuhan ekonomi. Tentu akan mengancam perekonomian. 

Berita Terkait : Lutfi Digoyang Tahu Dan Tempe

"Ini juga bahaya. Saya cenderung setuju, bahwa surplus devisa saat ini lebih karena perekonomian yang melemah. Saya juga sudah laporkan ke Presiden," ceritanya.
 Selanjutnya