Dark/Light Mode

Biar Jadi Unicorn, Bisnis Modest Fashion Moslem Perlu Didukung Banyak Investor

Minggu, 25 April 2021 22:24 WIB
Webinar Perempuan Tangguh yang Menginspirasi bagi Pembangunan Ekonomi Syariah Indonesia yang digelar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). (Foto: Ist)
Webinar Perempuan Tangguh yang Menginspirasi bagi Pembangunan Ekonomi Syariah Indonesia yang digelar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Potensi bisnis fashion muslim di Indonesia terus berkembang. Tapi, Pembina industri kreatif dan Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Amy Atmanto mengungkapkan, prospek yang bagus pada bisnis ini belum dilirik oleh banyak investor besar.

Perusahaan rintisan atau startup modest fashion moslem di Indonesia masih banyak yang membutuhkan dukungan.

"Kami berharap prospek bisnis modest fashion di Indonesia dapat direalisasikan sampai munculnya unicorn modest fashion moslem Indonesia," ujarnya, dalam webinar Perempuan Tangguh yang Menginspirasi bagi Pembangunan Ekonomi Syariah Indonesia yang digelar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), dikutip Minggu (25/4).

Sekedar info, unicorn merupakan sebutan bagi startup atau perusahaan rintisan yang memiliki valuasi uang mencapai Rp 10,47 triliun.

Baca Juga : Sampaikan Duka Cita, AHY Serukan Perhatian Penuh Bagi Keluarga Awak KRI Nanggala-402

Lebih jauh Amy memaparkan, belanja modest fashion ranking dunia terbesar saat ini adalah Turki dengan total belanja 29 miliar dolar AS, Uni Emirates Arab (UEA) dengan spending 23 miliar dolar AS dan posisi ketiga adalah Indonesia dengan total spending 21 miliar dolar AS. Posisi Indonesia sudah menunjukkan potensi yang besar. 

Sementara di urutan pertama dalam bidang ekspor, China dengan 10,6 miliar dolar AS , India dengan 3,1 miliar dolar AS, dan Turki sebesar 2,3 miliar dolar AS. Tahun 2024 diperkirakan belanja modest moslem dan clothing apparel akan tumbuh sebesar 6 persen mencapai 402 miliar dolar AS.

"Indonesia merupakan pasar domestik ketiga terbesar dengan nilai belanja 21 miliar dolar AS, saat ini pencarian Google dengan keyword moslem fashion Indonesia terbesar yaitu 77 persen, lalu Malaysia 15 persen dan sisanya Inggris dan negara lain," ungkapnya.

Amy menyebut Indonesia punya potensi ekspor yang besar ke Arab Saudi, Pakistan, Uni Emirate Arab, Eropa Selatan, Eropa Timur dan Asia Selatan. Dia mengajak pelaku modest fashion Indonesia untuk terus berinovasi. Untuk mencapai itu tentu membutuhkan dukungan banyak pihak.

Baca Juga : Komandan KRI Nanggala-402 Letkol Heri Oktavian Anak Polisi, Polri Turut Berduka Cita

Terutama dalam hal pendanaan misalnya dari investor, pemerintah dan perbankan. "Sehingga mampu menarik minat para angel investor agar tidak hanya berinvestasi pada startup di bidang aplikasi teknologi saja," katanya.

Dalam webinar tersebut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan tentang dukungannya untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Ini termasuk dengan mendorong inklusi keuangan bagi 130 juta penduduk yang masih belum terjangkau akses perbankan, lewat pengembangan layanan bank syariah pelat merah PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Menurut Destry, pasar keuangan syariah di Indonesia terus berkembang, tidak hanya melalui perbankan syariah, tetapi juga melalui pasar modal, bahkan fintech syariah. Inklusivitas pada EKSyar (cetak biru sistem pembayaran ekonomi dan keuangan syariah) menjadi nilai tambah.

Ini nantinya mampu menjadi jembatan untuk mengurangi ketimpangan antara orang kaya dan miskin. Pasalnya, hingga saat ini, masih ada 130 juta penduduk belum terjangkau oleh akses perbankan. "BI terus melakukan pemberdayaan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia salah satunya melalui pemberdayaan perempuan," tegasnya.

Baca Juga : Adibe, Pemuda Ethiopia Penerima Beasiswa RI Kini Jadi Pengusaha Dan Ingin Tinggal Di Indonesia

Berbagai program sinergi pengembangan usaha syariah yang dilakukan BI bersama stakeholders ditempuh dengan melibatkan peran perempuan. Destry menyebut, saat ini perkembangan ekonomi syariah secara global terus meningkat.

Berdasarkan laporan Refinitiv dan ICD, aset keuangan syariah global diproyeksi naik dari 2,8 triliun dolar AS pada 2019 menjadi 3,69 triliun dolar AS pada 2024 mendatang.

Pertumbuhan aset keuangan syariah global ini dipastikan juga terjadi di Indonesia. Pertumbuhan yang pesat ini juga dilakukan melalui pemberdayaan perempuan.

Dalam webinar ini hadir juga Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi, Staf Khusus Presiden Bidang Sosial Angkie Yudistia, pimpinan Baznas Saidah Sakwan, Deputy Director Business Incubation Shariah KNEKS Indarwati Rifianingrum, serta Desainer penerima penghargaan Ibu Negara Kartini Award Amy Atmanto yang juga Pembina indistri kreatif dan Pengurus Pusat MES. [JAR]