Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pengusaha Minta Tambahan Insentif Ke Presiden

Dunia Usaha Tidak Optimal Ekonomi Juga Belum Stabil

Minggu, 12 September 2021 06:30 WIB
Presiden Joko Widodo menerima perwakilan para ketua asosiasi di bidang ekonomi dan bisnis, Rabu (08/09/2021), di Istana Negara. (Foto: BPMI Setpres/Kris).
Presiden Joko Widodo menerima perwakilan para ketua asosiasi di bidang ekonomi dan bisnis, Rabu (08/09/2021), di Istana Negara. (Foto: BPMI Setpres/Kris).

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi mendorong para pengusaha terus meningkatkan kegiatan ekonomi. Ini penting dilakukan untuk membantu menurunkan angka pengangguran yang tinggi akibat pandemi Covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Har­tarto mengatakan, Presiden sudah berbicara dengan pengusaha dan meminta mereka terus optimistis. Pengusaha juga diharapkan bekerja sama dengan pemerintah memulih­kan perekonomian di Indonesia.

“Pemerintah telah memberi­kan sejumlah keringanan. Mulai dari diskon Pajak Penambahan Nilai (PPN) sampai pada Pajak Penghasilan (PPh) badan usaha. Karena itu, Bapak Presiden mendorong agar semua opti­mistis menghadapi tantangan ke depan,” kata Airlangga dalam keterangannya, Kamis (9/9).

Berita Terkait : Tak Paham RPJMD, NasDem: Gerakan Interpelasi Ke Anies Dinilai Tidak Jelas

Menurut Airlangga, Presiden juga menegaskan bahwa pan­demi Covid-19 saat ini masih belum berakhir.

Meski begitu, kasus Covid-19 sudah mulai terkendali. Penanganan virus Corona di Indonesia juga lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

Perkembangan yang bagus ini perlu dijaga semua pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha. Ini akan berpengaruh ter­hadap pertumbuhan ekonomi.

Berita Terkait : Ekonomi Ngacir Lagi

“Jika angka kasus Covid-19 kembali meningkat, maka per­tumbuhan ekonomi akan rendah,” jelas eks anggota DPR ini.

Pengamat ekonomi dari Cen­ter of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, realisasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun lalu.

“Sayang, meningkatnya penu­laran Covid-19 varian Delta se­jak Juni lalu dan baru melandai di Agustus, merusak momentum pemulihan yang sebenarnya baru mulai terlihat di kuartal II- 2021,” kata Yusuf kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Pengusaha Ngarep Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas

Menurut Yusuf, yang paling terdampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat varian Delta menyerang, yakni sektor ritel.
 Selanjutnya