Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sulap Potensi Rugi Menjadi Untung
Bulog Bisa Saingi Swasta
Sabtu, 6 November 2021 06:50 WIB
Sebelumnya
“Kami sudah lapor ke Mentan (Menteri Pertanian), Mendag (Menteri Perdagangan), dan Menko Perekonomian agar ke depan pengelolaan CBP dibenahi,” ujarnya, dalam acara penyampaian Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) Ombudsman RI terkait tata kelola beras, di Jakarta, Senin (18/10).
Menurut pria yang akrab disapa Buwas ini, hal paling mendasar atas kerugian tersebut adalah hilangnya pangsa pasar Bulog sebanyak 2,6 juta ton setahun untuk menyalurkan CBP yang diserap dari petani.
Hal ini terjadi sejak bantuan sosial (bansos) beras untuk rastra dihentikan dan diganti dengan BPNT.
“Sejak Rastra jadi BPNT, CBP berhenti dan Bulog kehilangan 2,6 juta ton kanal penyaluran. Kalau mau stok 1,5 juta ton itu berlebihan,” ungkapnya.
Baca juga : Mulai Hari Ini, Terbang Di Jawa Bali Bisa Pakai Antigen
Karena itu, pengelolaan volume yang tepat sangat diperlukan untuk menjamin tidak ada beban pengelolaan dan sirkulasi penyaluran berjalan baik. Sebab, dalam penyerapan beras petani yang dilakukan Bulog menggunakan pembiayaan bank dengan bunga komersil.
“Potensi Bulog merugi, itu pasti. Kenapa? Ya karena uangnya hasil meminjam (bank), bunga komersil itu berjalan terus,” akunya.
Tak hanya itu, pihaknya juga harus mengeluarkan ongkos perawatan beras selama masa penyimpanan di gudang.
Apalagi gudang yang digunakan Bulog adalah gudang biasa pada umumnya, bukan khusus untuk menyimpan beras. Hal tersebut menyebabkan kualitas beras semakin lama disimpan akan semakin turun mutunya. Dan akhirnya tak bisa disalurkan ke pasar. Maka, di situlah Bulog akan merugi.
Baca juga : Menhub Siapkan Antisipasi Sektor Transportasi
“Jadi, bagaimana mau menyimpan suatu pangan bisa awet, itu tidak mungkin. Supaya awet, perawatannya menjadi mahal,” bebernya.
Dihubungi terpisah, Kepala Humas Perum Bulog Tomi Wijaya mengatakan, untuk mengatasi potensi kerugian tersebut, diperlukan harmonisasi kebijakan dari regulator. Sehingga, stabilisasi harga baik di sisi hulu maupun hilir dapat diwujudkan.
“Kami harapkan adanya harmonisasi kebijakan,” katanya, kepada Rakyat Merdeka.
Selama ini, pihaknya memiliki fungsi sebagai operator yang melaksanakan penugasan PSO (Public Service Obligation) dari regulator.
Baca juga : Bank Dunia Ngarep Donasi China Untuk Negara Miskin
“Tapi untuk komersial, Bulog juga sudah banyak melakukan inovasi terkait trading komoditas pangan,” ujarnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya