Dewan Pers

Dark/Light Mode

Di Tengah Wabah PMK, Kementan Optimalkan Reproduksi Sapi Dan Kerbau

Senin, 6 Juni 2022 18:34 WIB
Tenaga kesehatan hewan melakukan pemeriksaan penyakit pada sapi/Ist
Tenaga kesehatan hewan melakukan pemeriksaan penyakit pada sapi/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya agar kegiatan optimalisasi reproduksi pada Sapi dan Kerbau tetap berjalan meski dalam kondisi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). 

Hal itu disampaikan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda dalam siaran persnya, Sabtu (4/6).

Menurut Agung, Kementan saat ini sedang berupaya melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk pelaksanaan semua kegiatan. 

“Terutama untuk kegiatan optimalisasi reproduksi pada ternak sapi/kerbau agar tetap aman di tengah PMK,” kata Agung. 

Pihaknya melakukan peningkatkan kapasitas pengetahuan petugas inseminator dan petugas pemeriksa kebuntingan.

Berita Terkait : Harga Minyak Mentah Naik, Rupiah Kena Imbasnya

“Kami berupaya agar petugas ini bisa meminimalisir penyebarluasan penyakit, karena petugas bisa menjadi media penularan juga," imbuhnya.

Agung mengatakan, upaya ini dilakukan dengan harapan agar memberikan layanan untuk mendukung program Sikomandan (Sapi Kerbau Andalan Negeri). Terlebih, pada saat wabah PMK.

“Kami harap, dengan meningkatnya kapasitas petugas lapangan dan tenaga inseminator, maka upaya mempercepat peningkatan jumlah populasi ternak besar, yakni sapi dan kerbau tidak terhalang meski ada PMK,” jelas Agung.

Dia menjelaskan, capaian kinerja Sikomandan Nasional tahun ini hingga 26 Mei 2022 untuk realisasi akseptor 1.609.794 ekor atau setara 39,86% dari target, realisasi kelahiran 1.081.444 ekor atau sebesar 42,32 persen dari taget, dan realisasi pemeriksaan kebuntingan sebesar 718.724 ekor.

Kemudian capaian untuk Provinsi Jawa Timur, berdasarkan laporan 26 Mei 2022, realisasi akseptor 746.330 ekor atau setara 37,60 persen dari target, realisasi kelahiran sebesar 500.558 ekor atau sebesar 39,83 persendari taget, dan realisasi pemeriksaan kebuntingan sebesar 326.584 ekor. 

Berita Terkait : Jelang Idul Adha, Mentan Pastikan Pasokan Daging Dan Sapi Aman

“Untuk Jawa Timur dengan jumlah petugas inseminator sebanyak 1.469 orang dan PKb sebanyak 1.409 orang diharapkan dapat mencapai target yang telah ditetapkan dalam program Sikomandan," harapnya.

Agung mengatakan, dengan kondisi wabah saat ini, optimalisasi reproduksi sebagai garda terdepan pendukung Program Sikomandan harus tetap berjalan dengan melakukan berbagai penyesuaian.

Misalnya, petugas harus tetap memberikan pelayanan reproduksi secara maksimal kepada masyarakat baik itu perkawinan, pemeriksaan kebuntingan dan pelayanan kesehatan hewan, serta target capaian Sikomandan tidak boleh turun.

“Kami terus maksimalkan, memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada seluruh petugas terhadap penyebab dan potensi penyebaran PMK, melalui kegiatan layanan reproduksi yang dilakukan," jelas Agung.

Dengan dukungan dan potensi yang ada melalui penerapan Strategi Optimalisasi Reproduksi, Agung meyakini penyebaran wabah PMK bisa dicegah. Sehingga kegiatan Sikomandan terus bergerak dalam menjaga populasi ternak sapi dan kerbau di Indonesia.

Berita Terkait : Di Malang, Kementan Gelar Pengobatan Sapi Bergejala PMK

"Kami harapkan semua stakeholder peternakan optimis dan semangat, dengan kerja sama semua pihak, pasti negara kita bisa kembali bebas PMK,” ungkap Agung. 

Menurutnya, Ditjen PKH dan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur telah mengambil langkah dalam upaya pelaksanaan Kegiatan Optimalisasi Reproduksi di tengah wabah PMK, pada Rapat Koordinasi yang dilaksanakan pada tanggal 30-31 Mei 2022 di Surabaya.

Sementara, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Indyah Aryani menyampaikan, mereka tetap optimis dan berkomitmen pelaksanaan kegiatan Sikomandan di Provinsi Jawa Timur tahun 2022 akan terealisasi sesuai target. 

Adapun kontribusi kegiatan Sikomandan dari Provinsi Jawa Timur mencapai 49 persen, baik untuk target IB dan kelahiran secara nasional.■