Dewan Pers

Dark/Light Mode

Terkendala Pengiriman, Eksportir Briket Arang Ngadu Ke Moeldoko

Selasa, 2 Agustus 2022 09:54 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko menerima kedatangan eksportir produsen briket arang, di gedung Bina Graha Jakarta, Selasa (2/8). (Foto: Kantor Staf Presiden)
Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko menerima kedatangan eksportir produsen briket arang, di gedung Bina Graha Jakarta, Selasa (2/8). (Foto: Kantor Staf Presiden)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kegiatan ekspor briket arang Indonesia mengalami kendala pengiriman. Perusahaan pelayaran yang notabene adalah perusahaan asing tidak menerima produk briket arang karena termasuk produk yang mudah terbakar. 

Fakta ini mengemuka saat sejumlah eksportir produsen briket arang bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko di Gedung Bina Graha Jakarta, Selasa (2/8).

"Briket arang Indonesia itu primadona karena kualitasnya sangat baik. Permintaan importir juga tinggi. Tapi lagi-lagi kami terkendala oleh persoalan logistik," kata Diah Tristani Wakil Ketua Pengusaha Arang Briket Nusantara Indonesia Raya (PABNIR). 

Berita Terkait : Gerimis Tak Halangi Para Menteri Dan Eks Menteri Olahraga Bareng Di UI

Diah menambahkan, selain soal pengiriman, pengusaha briket arang juga kesulitan untuk memenuhi berbagai persyaratan yang ditentukan. Seperti kelengkapan audit dan verifikasi tempat produksi. 

"Kami sudah ikuti semua prosedurnya, tapi masih saja dinilai tidak lengkap. Kami mohon ada regulasi yang jelas soal ini," ujar Diah. 

Di kesempatan yang sama, Ketua Persatuan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) Yogi Abimanyu minta Presiden Jokowi memasukkan industri arang kelapa dan turunannya dalam Daftar Negatif Investasi. Sebab, dengan banyaknya pemodal besar industri asing yang masuk ke Indonesia akan mematikan industri arang kelapa lokal. 

Berita Terkait : Menaker Sedang Beri Pelajaran Ke Malaysia

"Industri arang kelapa ini low investasi, low teknologi. Jadi dengan nilai investasi satu miliar saja sudah bisa. Jika pemodal besar asing ini dibiarkan masuk, industri lokal yang tertekan," ungkapnya. 

Abimanyu menilai, dengan membangun industri arang briket kelapa di Indonesia, pemodal asing menjadi tahu biaya produksi sebenarnya. Sehingga briket arang kelapa  dijual murah pada eksportir yang masih satu group di negara mereka. Sedangkan di pasar ritel dijual tinggi untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. 

“Hal ini menekan kami. Kami jadi sulit mendapat harga tinggi karena harganya sudah ditekan oleh perusahaan asing ini,” terangnya. 

Berita Terkait : Partai Buruh Desak Aturan Cuti Melahirkan 6 Bulan

Menanggapi aduan tersebut, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, menekankan pentingnya penguatan industri briket arang dari hulu hingga hilir. Sehingga, bisa memiliki nilai tambah dan daya saing yang kuat. 

Terlebih, imbuh dia, ekspor briket arang Indonesia rata-rata mencapai 30 ribu ton per bulan, dengan nilai devisa Rp 7 triliun. 

"Potensi ini perlu diperkuat industri hilirnya sehingga dibutuhkan kemudahan berusaha. Sementara terkait persoalan pengiriman, KSP akan carikan solusinya," tegas Moeldoko.