Dark/Light Mode

Mandatori B30 Segera Dimulai

Menko Airlangga Pede Hemat Devisa 4,8 Miliar Dolar

Jumat, 15 Nopember 2019 20:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto   Foto: Humas Kemenko Perekonomian
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Foto: Humas Kemenko Perekonomian

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yakin implementasi mandatori B30 yang akan dilaksanakan 1 Januari 2020 dapat menghemat devisa negara hingga sebesar 4,8 miliar dolar AS sepanjang 2020.

“Maka pada saat implementasi Mandatori B30 dilaksanakan secara formal pada 1 Januari 2020 diproyeksikan akan terjadi penghematan devisa sebesar 4,8 miliar dolar AS sepanjang 2020,” katanya di Jakarta, Jumat.

Airlangga mengatakan pemerintah akan mengujicoba penggunaan B30, alias pencampuran solar dengan 30 persen biodiesel (bahan bakar dari kepala sawit) di sektor transportasi pada November 2019. Sebab hasil road test sementara kendaraan bermesin diesel menunjukkan bahwa B20 dan B30 telah memenuhi spesifikasi parameter short test.

Spesifikasi parameter short test sendiri terdiri dari kadar FAME, kadar air, viskositas, densitas, dan angka asam. Selain itu, penggunaan B20 dan B30 juga tidak memperlihatkan perbedaan dampak yang signifikan terhadap daya kendaraan.

Berita Terkait : Peserta Rapimnas Mayoritas Dukung Airlangga

Airlangga menilai implementasi mandatori B30 akan mampu menekan nilai impor Indonesia yang pada Oktober 2019 mencapai 14,77 miliar dolar AS atau naik 3,37 persen (mtm) dibanding bulan lalu.

“Berbagai langkah yang sedang dan akan diambil pemerintah Indonesia saat ini diharapkan dapat menurunkan angka impor ke depan di antaranya pemberlakuan Mandatori B30,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Jumat (15/11) lalu menunjukkan, meskipun nilai tersebut naik dibandingkan September 2019 namun turun signifikan daripada periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar 16,39 persen (yoy) atau 17,67 miliar dolar AS.

Airlangga juga menjelaskan pemerintah akan melakukan berbagai langkah lain untuk terus mengurangi nilai impor di Indonesia, seperti merevitalisasi Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) untuk mensubstitusi produk impor petrokimia.

Berita Terkait : Pertumbuhan Ekonomi Dinyinyirin, Menko Airlangga Buka Suara

Ia melanjutkan pemerintah pun akan melakukan pengembangan program gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai upaya substitusi Liquified Petroleum Gas (LPG) dan pengembangan green refinery.

“Semuanya ini merupakan bagian dari Quick Wins pemerintah dalam upaya memperkuat neraca perdagangan Indonesia,” tegasnya.

Neraca perdagangan Indonesia untuk periode Oktober 2019 mengalami surplus 161,3 juta dolar AS atau lebih baik dibanding periode September 2019 yang mengalami defisit 163,9 juta dolar AS.

Surplus ini juga lebih baik daripada periode yang sama pada 2018  dengan defisit cukup besar yaitu mencapai 1,75 miliar dolar AS.

Berita Terkait : Puji Airlangga, Jokowi Goda JK dan Paloh

Perbaikan neraca perdagangan ini utamanya disumbang oleh surplus non-migas sebesar 990,5 juta dolar AS, meskipun pada saat yang sama sektor migas masih mengalami defisit sebesar 829,2 juta dolar AS.

Realisasi surplus non-migas pada Oktober 2019 ini lebih tinggi dibandingkan surplus pada September 2019 lalu yang tercatat 598 juta dolar AS dan periode sama tahun lalu yang justru mengalami defisit 386,9 juta dolar AS.

Sementara, defisit migas pada Oktober 2019 sebesar 829,2 juta dolar AS juga tetap perlu menjadi perhatian bersama, meskipun bila dibandingkan Oktober 2018 dengan berada di angka defisit 1,37 miliar dolar AS pencapaian pada Oktober 2019 ini relatif lebih baik. Nilai ekspor pada Oktober 2019 mencapai 14,93 miliar dolar AS atau naik 5,92 persen (mtm) dibandingkan September 2019. [KRS]