Dark/Light Mode

Zulhas Di Apel Siaga Jabar Berseka

Pilah Sampah Dari Rumah, Jangan Tunggu Jadi Bencana

Minggu, 26 Juli 2026 07:00 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan sambutan saat Apel Siaga Jabar Berseka di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/7/2026). Foto: Dok. Kemenko Pangan
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan sambutan saat Apel Siaga Jabar Berseka di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/7/2026). Foto: Dok. Kemenko Pangan

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengajak masyarakat memulai gerakan memilah sampah dari rumah sebagai solusi menghadapi darurat sampah.

Menurut Zulhas-sapaan Zulkifli Hasan, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan Pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat sejak dari tingkat rumah tangga.

Zulhas mengingatkan, sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bencana seperti yang pernah terjadi di TPA Leuwigajah.

Hal tersebut disampaikan Zulhas saat menghadiri Apel Siaga Jabar Berseka, Aksi Pilah Sampah dari Rumah di Sport Jabar Arcamanik, Bandung, Jumat (24/7/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 4.000 peserta tersebut bagian dari Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga : Menko Polkam: Perang Lawan Narkotika Tugas Dunia-Akhirat

Dia menjelaskan, Bandung Raya menghasilkan hampir 2.000 ton sampah setiap hari. Menurutnya, kondisi darurat sampah tidak dapat diatasi Pemerintah sendiri.

“Karena itu, dari rumah kita mulai dengan langkah paling sederhana, pilah sampah,” kata Zulhas dalam keterangannya dikutip Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, kondisi TPA Sarimukti yang semakin terbatas serta pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka yang masih membutuhkan waktu sekitar 3 tahun membuat penanganan sampah tidak bisa ditunda.

“Kita tidak bisa menunggu sambil membiarkan sampah terus menumpuk. Yang bisa kita kerjakan hari ini, kita kerjakan bersama. Pilah dari rumah, olah yang bisa diolah, sehingga hanya residu yang masuk ke TPA,” tegasnya.

Baca juga : Yakin Swasembada Tercapai, Gerindra Dukung Pemerintah Perkuat Cadangan Energi

Zulhas mengingatkan tragedi longsor TPA Leuwigajah pada 2005 yang menelan 157 korban jiwa sebagai pelajaran bahwa persoalan sampah dapat berubah menjadi bencana apabila tidak dikelola secara serius.

Dia menjelaskan, pembangunan fasilitas PSEL tetap diperlukan, namun bukan menjadi satu-satunya solusi. PSEL hanya mampu mengolah sekitar 22 persen volume sampah, sehingga pemilahan sejak rumah tangga menjadi kunci utama.

“Salah satu yang paling penting soal sampah ini adalah pemisahan. Pemisahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sampah anorganik memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi bahan bakar, energi listrik, hingga pengganti batu bara. Sementara sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos maupun pupuk agar tidak berakhir di TPA.

Baca juga : Bersejarah, Bobby Nasution Ngantor Di Kepulauan Nias

Zulhas optimistis, target penyelesaian 80 persen persoalan sampah pada 2029 dapat tercapai apabila seluruh elemen masyarakat bergerak bersama. Mulai dari Pemerintah, RT/RW, kampus, dunia usaha, hingga TNI dan mahasiswa.

Selain mengubah perilaku masyarakat, Pemerintah juga terus mendorong penggunaan teknologi pengolahan sampah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.