Dark/Light Mode

Zona Merah Melonjak Pekan Ini

Pengawasan Pemda Mulai Kendor Nih...

Jumat, 13 Nopember 2020 06:30 WIB
Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito
Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito

RM.id  Rakyat Merdeka - Satgas Penanganan Covid19 menilai Pemerintah Daerah (Pemda) mulai kendor mengawasi penerapan protokol kesehatan (prokes). Hal itu terbukti dari makin meningkatnya jumlah daerah zona merah. 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan, perkembangan pekan ini terlihat ke arah yang kurang baik. Sebabnya, jumlah kabupaten/kota dengan zona risiko tinggi Covid-19 atau zona merah meningkat di pekan ini. 

Satgas Penanganan Covid-19 menganggap pemerintah daerah lengah melakukan penanganan pandemi. 

Sistem zonasi tingkat risiko Covid-19 yang dilakukan menunjukkan peningkatan jumlah wilayah dalam zona merah, yakni dari 19 menjadi 27 kabupaten/kota. 

Zona oranye atau risiko sedang menurun menjadi 370 dari pekan sebelumnya sebanyak 371 kabupaten/kota. Zona kuning atau risiko rendah pekan ini turun menjadi 97 dari sebelumnya 104 kabupaten/kota.

Berita Terkait : BOR Turun, Nakes Wisma Atlet Bisa Rehat Sejenak

Zona hijau atau wilayah tanpa kasus baru meningkat dari 8 menjadi 9 kabupaten/kota. 

Sementara zona hijau atau tidak terdampak menurun dari 12 menjadi 11 kabupaten/kota. Penambahan jumlah daerah dengan status zona merah menunjukkan terjadi kelengahan daerah dalam melakukan penanganan Covid-19. 

“Apabila masyarakat dan pemerintah daerah lengah, maka kabupaten/kota di zona oranye dapat berpindah ke zona merah. Dan ini terjadi pada 19 kabupaten/kota pekan ini. Ini menunjukkan pemerintah daerah dan masyarakatnya benar-benar lengah,” tegas Wiku. 

Dia meminta daerah yang status risikonya meningkat segera mengevaluasi penerapan protokol kesehatan. Karena perpindahan zona ke arah yang lebih berisiko harusnya dapat dihindari. Masyarakat harus dipastikan menerapkan protokol kesehatan. 

Sementara pemerintah setempat menegakkan disiplin kepada masyarakat yang masih abai protokol kesehatan. Protokol itu yakni #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun dan #jagajarak hindari kerumunan. 

Berita Terkait : Relawan Covid-19: Bergerak Tanpa Berkerumun

Selain itu, tingkatkan 3T (testing, tracing dan treatment) bagi pemerintah daerah. Sehingga deteksi dini dapat dilakukan pada mereka yang positif dan kontak terdekatnya. Termasuk pelayanan pasien dapat dilakukan lebih dini dan meningkatkan peluang untuk sembuh. 

“Ingat, penanganan Covid19 adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya. 

Dia juga mengingatkan, terjadi peningkatan kasus positif sebesar 8,2 persen. Tren penurunan kasus pekan lalu, ternyata diakibatkan testing atau pemeriksaan yang juga menurun. 

“Hal ini jadi pembelajaran kita semua terlepas ada masa libur. Dan daerah harus menggencarkan 3T (testing, tracing dan treatment),” tegas Wiku. 

Sementara, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengingatkan pemerintah daerah, jangan kendor terhadap pencegahan penyebaran Covid-19. Doni meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah terus melakukan berbagai upaya pencegahan guna memutus mata rantai penularan pandemi yang disebabkan Virus Corona jenis baru. 

Berita Terkait : Tito Keluarkan 11 Jurus Ampuh

“Jangan kendor. Kita tidak tahu Covid-19 ini kapan akan berakhir. Vaksinnya pun masih dalam proses,” kata Doni saat Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Covid-19 bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Palu. 

Doni menilai, meski upaya Pemprov Sulawesi Tengah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 termasuk baik, tingkat fatality rate-nya masih harus mendapat perhatian khusus dan antisipasi. Karena itu, penanganan Covid-19 dapat lebih ditingkatkan. 

“Kita cukup bergembira bahwa penanganannya termasuk pada kategori bagus. Namun, masih terdapat korban jiwa, ini yang perlu kita pikirkan ke depan bagaimana korban jiwa ini bisa seminimal mungkin,” ujar Doni. [DIR]