Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diamanahkan Jadi Penggerak Utama Pemulihan Ekonomi

Mendag Cari Harta Karun Ke Negara Non Tradisional

Rabu, 18 Agustus 2021 16:48 WIB
Pertemuan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dengan Menteri yang Bertanggung Jawab atas Integrasi dan Makroekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev di sela-sela kunjungan kerjanya ke Rusia, Kamis (3/6). (Foto: Ist)
Pertemuan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi dengan Menteri yang Bertanggung Jawab atas Integrasi dan Makroekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev di sela-sela kunjungan kerjanya ke Rusia, Kamis (3/6). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Didapuk sebagai penggerak utama pemulihan ekonomi, membuat Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memaksimalkan berbagai lini. Jika diibaratkan, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi sampai harus mencari harta karun ke negara nontradisional.

Upaya ini dilakukan setelah Kemendag menggelar Rapat Kerja bertema Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Utama Pemulihan Ekonomi Nasional, awal Maret lalu. Saat itu, Presiden Jokowi memberi enam arahan.

Pertama, mengembangkan perdagangan digital. Kedua, mengembangkan pasar produk nasional. Ketiga, memperluas pasar ekspor. Keempat, mendukung pelaku UMKM melakukan ekspor. Kelima, mempercepat proses perundingan perdagangan internasional. Dan keenam, menjaga ketersediaan bahan pokok (bapok) dengan harga terjangkau.

Berita Terkait : HNW Harap Sidang Tahunan MPR Jadi Pengingat Pejabat Dan Lembaga Negara

Mendapat arahan ini, Lutfi lantas memetakan apa yang harus dilakukan. Fokusnya pada tiga hal. Pertama, menjaga pasokan bapok dan penguatan pasar dalam negeri. Kedua, meningkatkan ekspor nonmigas dan membuka akses pasar ke negara nontradisional. Ketiga, memperkuat pelaku UMKM untuk bersaing di pasar dunia.

Hasilnya, ada dua formula yang dilakukan Kemendag. Pertama, perdagangan dalam negeri. Lutfi akan menjamin pasokan dan stabilisasi harga. Penciptaan peluang kerja juga tak luput dari strateginya. Begitu juga penciptaan perdagangan digital yang adil dan bermanfaat, memberdayakan dan melindungi pelaku UMKM dari predator harga di e-commerce, serta mengembangkan pasar produk nasional. Kedua, meningkatkan ekspor nonmigas.

Caranya, memaksimalkan pasar utama dan pasar potensial tahun 2021. Meningkatkan fasilitas perdagangan luar negeri, meningkatkan implementasi perjanjian perdagangan dan pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA) Center, dan meningkatkan peran pemerintah daerah.

Berita Terkait : Himbara: Pertumbuhan Ekonomi Jadi Pendorong Bisnis Keuangan

Untuk memaksimalkan formula tersebut, Lutfi mendorong transformasi Indonesia menjadi negara penghasil dan pengekspor barang industri dan industri berteknologi tinggi. Ia yakin transformasi ini sangat bermanfaat bagi kinerja ekspor. Sektor konkret yang menunjukkan transformasi tersebut seperti komoditas besi baja, kendaraan bermotor, dan perhiasan.

Mendag berharap, transformasi ini dapat memenuhi target perdagangan 2021. Yakni, pertumbuhan ekspor nonmigas 6,3 persen, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor perdagangan besar dan eceran (bukan mobil dan sepeda motor) sebesar 4,8 persen.

"Sepuluh produk utama ekspor nonmigas Indonesia berkontribusi 59,8 persen terhadap kinerja ekspor nonmigas pada 2020. Di antaranya, ada tiga produk yang telah bertransformasi menjadi barang industri dan industri berteknologi tinggi. Yaitu besi baja, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, dan perhiasan. Kami berkomitmen terus mendorong transformasi ini," tegasnya.

Berita Terkait : Mending Satpol PP Bantu Warga Kelaparan Dan Bersihin Sampah

Strategi yang tak kalah pentingnya adalah perjanjian perdagangan internasional. Sebab itu, perlu membuka pasar yang lebih luas agar produk yang diekspor lebih banyak. Apalagi, saat ini merupakan era kolaborasi, bukan lagi era persaingan.

Peluang peningkatan ekspor ke negara nontradisional pun terus digali. Terlebih, data ekspor 2020 ke sejumlah negara nontradisional tumbuh cukup tinggi di tengah tekanan ekonomi global. Rinciannya: ke Eropa Barat tumbuh 17,07 persen, Australia 14,52 persen, dan Eropa Timur 99,9 persen.
 Selanjutnya