Dewan Pers

Dark/Light Mode

Agar Bisa Bedakan Hoaks

Literasi Digital Bagian Dari Pemberdayaan Masyarakat

Jumat, 15 Oktober 2021 15:35 WIB
Webinar Literasi Baca Tulis di Era Digital yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jumat (15/10). (Foto: Dok. Perpusnas)
Webinar Literasi Baca Tulis di Era Digital yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jumat (15/10). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemajuan teknologi informasi memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Sejumlah kegiatan terdisruptif menjadi digital, termasuk kegiatan membaca dan menulis. Kemampuan literasi baca-tulis di era digital mutlak diperlukan agar masyarakat tidak mendapatkan informasi yang negatif.

Literasi baca-tulis harus disandingkan. Jangan dipisah-pisah. Yang sekarang terjadi adalah literasi bacanya masih kurang, sudah langsung nulis. Akibatnya, muncul bahasa-bahasa alay dalam keseharian,” terang Duta Baca Indonesia Gol A Gong, pada Webinar Literasi Baca Tulis di Era Digital yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jumat (15/10).

Gol A Gong menyoroti perkembangan digital akhir-akhir ini yang dirasa mendorong hasrat masyarakat dunia berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota karena infrastrukturnya yang lebih modern. Keberadaaan internet diyakini turut menambah kemudahan di semua sektor kehidupan.

Nah, agar bisa berliterasi digital dengan baik, seseorang harus punya kemampuan literasi informasi yang baik pula. Dan kemampuan literasi informasi berawal dari literasi baca-tulis. “Jika ini terstruktur dengan benar, maka literasi digital bakal jadi bagian dari pemberdayaan diri. Siapa pun bisa memilah mana informasi yang bener, mana yang menyesatkan,” tambah Gol A Gong.

Salah satu musuh besar dari arus digitalisasi adalah rentan terjadinya plagiat. Praktik plagiasasi banyak menyasar pada dunia pendidikan, apalagi perguruan tinggi. Perilaku mengubah judul, nama, atau bahkan kalimat merupakan tindakan yang tidak literat. “Itu sama saja kejahatan intelektual,” terang Founder Kelas Menulis Daring (KMD) Muhammad Subhan.

Subhan menaruh harapan besar dengan adanya literasi digital. Ia berpikiran semestinya literasi digital mampu mengajak orang ‘melek’ informasi sehingga tidak asal bertindak.

Subhan menyatakan bahwa literasi baca-tulis tetap harus ditumbuhkan meski digital menjamur. “Secara umum, literasi itu penting dan merupakan jalan keluar dari lingkaran setan kehidupan, seperti kemiskinan,” tambahnya.

Sebuah riset menunjukkan, per 2020, tidak kurang dari empat miliar penduduk bumi mengakses media digital setiap harinya. Di Indonesia, tidak kurang dari 170 juta penduduknya massif bermedia sosial. Mayoritas pengguna media sosial di Indonesia merupakan golongan usia produktif.

Faktanya, mereka yang aktif di media sosial tidak semua memiliki kemampuan literasi digital yang baik. Apalagi, sejak Pilpres berakhir, lalu-lalang informasi sesat begitu merajalela. Hoaks beredar di mana-mana.
“Masyarakat Indonesia tipikal masyarakat verbal. Doyan bercakap-cakap ketimbang membaca buku atau membedah buku,” beber Founder Komunitas Nulis Aja Dulu Irma Susanti.

Literasi merupakan bagian dari kognitif setiap manusia yang diartikan sebagai kecakapan dalam hidup, kemampuan memahami dan menganalisis serta mensintesakan (memadupadankan) banyak hal. Literasi harus dikembangkan atau dijadikan kebiasaan sehingga terjadi proses transfer knowledge tanpa henti.

“Orang yang terbiasa berliterasi akan berpikiran terbuka, kritis, dan produktif,” kata Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Adin Bondar. [USU]