Dark/Light Mode

Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (8)

Jejak Dakwah Dan Kebudayaan Nusantara Di Cape Town

Minggu, 28 Juli 2024 10:32 WIB
Konsul Jenderal RI Cape Town Tudiono saat menikmati keindahan pantai Camp Bay, di Cape Town, Afrika Selatan. Dok Pribadi
Konsul Jenderal RI Cape Town Tudiono saat menikmati keindahan pantai Camp Bay, di Cape Town, Afrika Selatan. Dok Pribadi

 Sebelumnya 
Tudi juga menyaksikan hal yang kontras di Cape Town, yakni kesenjangan sosial yang tajam. Ini nampak antara lain di sepanjang perjalanan dari bandara menuju Cape Town. Di sebelah kanan jalan raya terbentang rumah-rumah gedong yang cukup bagus, namun di sebelah kiri terhampar rumah-rumah tinggal bedeng. 

Konon, ini adalah masyarakat pendatang dari luar dan sebagian merupakan sisa-sisa peninggalan masa apartheid. 

Baca juga : Diplomat RI Di Negeri Ginseng: Antara Soju, Protokol, Dan Semenanjung Korea

Sebagian dari mereka masa itu terusir dari rumahnya sendiri karena kawasan itu merupakan kawasan "golongan lain" dan mereka harus meninggalkannya tanpa kompensasi. Ini seperti yang dikatakan HW, "Once we lived in a decent house at that time in Claremon. But we had to leave and move to Kayelitsha without any compensation due to the apartheid law."

Di suatu jalan, jika masih pagi hari, serasa menyaksikan apa yang disebut Iwan Fals sebagai "parade penganggur", yakni orang berjejer menjajakan diri untuk dipekerjakan misalnya sebagai tukang taman, pemotong pohon, dan lain-lain.

Waterfront, ABK Dan Kapal Syeikh Yusuf 

Mengunjungi para ABK di Waterfront, memberikan bantuan dan pembekalan life skills. Dok Pribadi

Baca juga : Debut Diplomat Di Wina, Dari Jari Terjepit Hingga Bersinar Di UNIDO

Waterfront adalah daerah pelabuhan. Banyak ABK yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan dari berbagai negara singgah di Waterfront Cape Town. Rata-rata sekitar 2000 - 3000 ABK singgah di pelabuhan ini. 

Sejak tahun 2018, pemerintah RI membentuk Rumah Singgah ABK di Cape Town untuk memberikan bantuan misalnya pembekalan life skills dan perlindungan yang optimal kepada para ABK.

Baca juga : Menggapai Asa Di Tengah Prahara

Tudi melihat satu kapal bertuliskan "Voetboeg." Ini adalah kapal yang membawa Syeikh Yusuf, ulama dari Makassar, ke Tanjung Harapan pada 27 Juni 1693. Syeikh Yusuf merupakan pembawa syiar Islam pertama di Afrika Selatan (Afsel).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.