Dark/Light Mode

Ada Banyak Berkah di Balik 20 Tahun Tertundanya Kesepakatan Proyek Masela

Inpex Komit Kawal Proyek Masela Hingga Tahun 2045

Jumat, 21 Juni 2019 05:56 WIB
Dari kiri, Presiden Direktur Inpex Corporation Indonesia Shunichiro Sugaya, President & CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda dan Managing Executive Officer Kenji Kawano usai diwawancarai Rakyat Merdeka di sela Konferensi G20 di Karuizawa, Jepang, Minggu (16/6). (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka)
Dari kiri, Presiden Direktur Inpex Corporation Indonesia Shunichiro Sugaya, President & CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda dan Managing Executive Officer Kenji Kawano usai diwawancarai Rakyat Merdeka di sela Konferensi G20 di Karuizawa, Jepang, Minggu (16/6). (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka)

 Sebelumnya 
Jika semua ini berjalan lancar, dan Masela dianggap feasible secara ekonomi, Inpex akan membuat Final Investment Decision (FID) yang dilanjutkan dengan Engineering, Procurement and Construction (EPC). Setelah lengkap semuanya, barulah proses produksi bisa dimulai.

"Perkiraan kami, jika semua berjalan lancar, produksi bisa dimulai akhir 2020," kata Ueda.

Dengan asumsi kegiatan awal produksi dijalankan pada akhir 2020, Ueda memperkirakan, proyek Masela baru akan beroperasi normal sekitar 7-8 tahun lagi. "Diperkirakan, sekitar tahun 2027 atau 2028, Masela mulai beroperasi normal. Kesepakatan kami di proyek Masela ini sampai 2045. Jadi, kami akan beroperasi dan mengurusi proyek ini pada 2027 atau 2028, hingga 2045," tutur Ueda.

Bicara soal potential buyer yang akan membeli gas proyek Masela, Ueda menerangkan, pembeli paling potensial adalah Indonesia dan Jepang. "Kami melihat Indonesia sangat membutuhkan energi yang cukup besar di masa depan. Kami juga akan mempromosikan produk ini ke perusahaan-erusahaan di Jepang. Kebutuhan Jepang terhadap gas alam cair (LNG) juga masih besar. Jadi, kami membidik perusahaan Jepang sebagai pembeli potensial kedua setelah perusahaan Indonesia,” paparnya.

Baca juga : DPRD Surabaya Lihat Pendidikan dan Pelayanan Digital Finlandia

Selain itu, beberapa negara di Asia juga berpotensi menjadi pembeli besar seperti China, Malaysia, India, dan lainnya. “Negara-negara berkembang ini terus membutuhkan energi yang cukup besar. Dengan begitu, kami yakin tidak akan kesulitan mencari pembeli," katanya.

Ueda berharap, PoD bisa ditandatangani pada 28 Juni mendatang di hadapan Presiden Jokowi dan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe dalam acara puncak Konferensi G20 di Osaka. Untuk itu, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin demi kesuksesan proyek Masela.

"Semuanya tergantung pada pemerintah kedua negara. Jika dilakukan di akhir bulan ini, dalam momen yang sedang baik, kami rasa ini akan membawa dampak baik bagi kedua negara. Baik Indonesia ataupun Jepang," pungkasnya.

Ueda berpendapat, iklim investasi di Indonesia jauh lebih baik selama pemerintahan Jokowi. “Ya, saya pikir demikian. Selama pemerintahan beliau, ada perbaikan yang sangat signifikan. Jauh lebih baik. Kami harap, iklim bisnis di Indonesia terus membaik dan makin menarik bagi investor asing,” harapnya.

Baca juga : Azmin Love Haziq Gegerkan Malaysia

Transparansi, fleksibel dan kepastian atmosfer bisnis, lanjut Ueda, adalah kata kunci yang dicari investor di sebuah negara.

“Saya rasa, iklim investasi dan bisnis energi terutama di sektor minyak bumi dan gas alam di Indonesia, sangat bagus. Buktinya, kami menandatangani Head of Agreement (HoA),” tegasnya.

Dia yakin, demi mensukseskan proyek Masela ini, pemerintah Indonesia akan sebaik mungkin mempertahankan iklim bisnis dan investasi serta sistem perpajakan, agar investor tenang selama beroperasi di Indonesia.

“Makanya, kami berharap, pemerintah Indonesia tidak mengubah iklim yang baik ini demi kelancaran proyek ini,” katanya.

Baca juga : Perayaan HUT Ratu Inggris di Jakarta, Tandai Momen Perpisahan Dubes Moazzam

Pada kesempatan yang sama, President Director Inpex Corporatiob Shunichiro Sugaya menambahkan, langkah terdekat yang akan mereka lakukan adalah mendapatkan izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).

“Sejauh ini, kami tidak menemukan hambatan berarti. Termasuk, untuk urusan pembebasan lahan,” pungkas Sugaya. [TIK]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.