Dark/Light Mode

Nggak Bisa ke AS, Negeri Lain Pun Jadi

Selasa, 9 Juli 2019 11:01 WIB
Pelajar China kerja kelompok dengan pelajar Jerman di Universitas Dresden, Jerman. (Foto: AFP)
Pelajar China kerja kelompok dengan pelajar Jerman di Universitas Dresden, Jerman. (Foto: AFP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Akibat perang dagang Amerika Serikat-China yang tidak jelas kapan berhenti, para pelajar China mini mulai menerima kenyataan bahwa mereka mungkin tidak akan mudah diterima belajar di universitas dan institusi pendidikan di Paman Sam. 

Tidak patah arang, generasi muda Negeri Tirai Bambu pun mencari alternatif negara tujuan menuntut ilmu. Keputusan ini bisa berdampak pada pendapatan institusi pendidikan AS, yang hampir 37 persennya didapat dari mahasiswa asal China.

Mahasiswa asal China memang mengisi lebih dari sepertiga total bangku universitas dan institusi AS dan kebanyakan dari mereka masuk dengan jalur normal, bukan beasiswa. Setidaknya 13 miliar dolar atau sekitar Rp 183,7 triliun pertahun mengalir dari kantung mahasiswa China ke kantung universitas Paman Sam. Diperkirakan, mulai Maret 2019 hingga Maret 2020, angka pendapatan universitas AS akan menurun karena berkurangnya minat anak muda China sekolah ke AS.

Keengganan pelajar China lanjut belajar ke AS bukan tanpa alasan, lamanya proses pengajuan visa, diskriminasi selama masa kuliah hingga diskriminasi saat akan mencoba mencari pekerjaan awal di AS yang makin jelas membuat mereka malas menjadikan Negeri Adidaya tersebut jadi tujuan utama belajar.

Baca juga : Nasri Yakin Moncer di Belgia

Kepada kantor berita AFP, sejumlah siswa dan orang tua murid mengatakan mereka juga tertarik dengan pendidjman yang ditawarkan Inggris, Australia dan Kanada. Ketiga negara ini disebut memiliki kualitas pendidikan tingkat tinggi dengan banyak tawaran kemudahan bagi pelajar asing. Berdasarkan survei yang dilakukan AFP, apara pelajar China mulai kembali memilih Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan negara-negara Skandinavia sebagai tujuan kuliah yang baru. 

Negara-negara ini, pada tahun 70-an merupakan tujuan pendidikan tinggi kelas elit China. Jepang, Korsel dan Jerman menawarkan pendidikan yang menitikberatkan pada pengembangan ilmu teknik dan peogram mesin. Sementara negara-negara Skandinavia menitikberatkan pada pendidikan mengenai ekonomi hijau dan pemanfaatan energi terbarukan.

Jenis bidang studi ini jelas disasar anak muda China karena sangat berguna untuk membangun negara mereka di kemudian hari. Penurunan jumlah permohonan mahasiswa baru dari China ke AS mulai terlihat sejak epertengahan tahun lalu. Saat itu, Presiden AS Donald Trump mulai melakukan cekcok dagang dengan China. Para pejabat pemerintah lokal AS pun mulai memotong visa tinggal mahasiswa China yang mengambil jurusan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Karena ada banyak hal yang mulai tidak menentu, siswa mulai mencari alternatif lain untuk belajar. Ini normal," jelas pendiri badan konsultasi pedndidikan zoom in, Gu Huini.

Baca juga : KAI dan Angkasa Pura Segera Join LinkAja

Berdasarkan catatan Gu, ada penurunan dari 360 ribu mahasiswa China menjadi 5.000 orang yang menempuh pendidikan bidang ilmu biologi dan sel punca di AS. "Karena sebelumnya ada diskriminasi jam praktikum dan sedkitinya kesempatan magang bagi mahasiswa China di perusahaan AS, permohonan siswa untuk belajar pun menurun," terang Gu.

Seorang siswa sekolah menengah China Melissa Zhang mengatakan dia sudah membuang niatnya belajar ke AS. Dia mengalihkan pilihannya ke Jerman untuk mengambil bidang studi program robotik di Dresden. "Saya sudah buang-buang waktu untuk mempersiapkan nilai SAT untuk belajar ke AS," ujarnya merujuk ke ujian standar penerimaan untuk universitas AS.

"Tapi kalau saya tetap ke AS, mereka mungkin tidak mengizinkan saya masuk lab karena saya China," lanjutnya.

Ibu Melissa, Mingyue Zhang, mengatakan Amerika sudah kehilangan pesonanya sebagai Negeri Tempat Mewujudkan Mimpi 'American Dream.' "Kalau erika menolak mereka, generasi muda masih punya temapat lain untuk berkembang. Dunia terbuka untuk mereka," ujar Mingyue.

Baca juga : Sarri Kepincut Ronaldo

Selain diskriminasi, menurunnya angka pelajar China ke AS juga disebabkan meningkatnya kejahatan di Paman Sam. "Media di sana mengabarkan peningkatan kejahatan senjata api dan perampokan. Amerika tidak lagi terasa aman," ujar Li Shaowen, pengurus tur pendidikan di AS. [DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.