Dewan Pers

Dark/Light Mode

Rekor, 35 Perempuan Raup Kursi Majelis Tinggi Jepang

Senin, 11 Juli 2022 10:15 WIB
Junko Mihara, politikus perempuan Jepang dari Partai LDP berhasil terpilih menjadi anggota Majelis Tinggi. (Foto Japan Times)
Junko Mihara, politikus perempuan Jepang dari Partai LDP berhasil terpilih menjadi anggota Majelis Tinggi. (Foto Japan Times)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebuah rekor, 35 perempuan berhasil memenangkan kursi Majelis Tinggi (House of House of Councillor/Dewan Penasihat)  dalam pemilihan umum, di Jepang, Minggu (10/7).

Jumlah tersebut memecahkan rekor pemilihan sebelumnya pada 2019 yaitu 28 orang. Tak hanya itu, perempuan yang menjadi kandidat dalam pemilihan tiga tahunan itu, tahun ini adalah yang tertinggi. Yakni 181 kandidat.

Di antara perempuan yang terpilih adalah Junko Mihara dan Satsuki Katayama dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa. Sementara Renho Murata dari oposisi utama, Partai Demokrat Konstitusional Jepang (CDPJ)

Berita Terkait : Jelang Akhir Pekan, Rupiah Makin Bertenaga

"Saya senang," kata mantan wakil ketua CDPJ  Kiyomi Tsujimoto (62).

Jumlah kandidat dalam pemilihan 10 Juli lalu 33,2 persen melampaui 30 persen untuk pertama kalinya di Jepang pascaperang baik di Majelis Tinggi maupun Majelis Rendah. Namun angka tersebut masih jauh dari target Pemerintah untuk mencapai 35 persen pada 2025.

Partai-partai oposisi umumnya punya kandidat perempuan yang tinggi dalam pemilihan Minggu. Yakni  Partai Komunis Jepang dan CDPJ di atas 50 persen.

Berita Terkait : Partai Buruh Desak Aturan Cuti Melahirkan 6 Bulan

Di posisi kedua, Partai Demokrat untuk Rakyat dengan kuota di atas 40 persen. LDP lebih rendah di 23,2 persen, tetapi punya target keterwakilan  perempuan di partai mencapai 30 persen dari calonnya. 

“Kami dapat melihat bahwa dunia politik mencoba merespon gerakan sosial menuju keragaman, karena meningkatnya jumlah keterwakilan perempuan di partai," kata analis yang menyoroti masalah gender dari  Universitas Tokyo, Toko Tanaka.

Menyoroti bahwa Jepang dikenal secara internasional karena ketidaksetaraan gendernya di dunia politik dan perusahaan, Tanaka mengatakan, agar semua pihak bekerja untuk memecahkan masalah dengan mendengarkan suara rakyat tergambar dalam dalam pemilihan.

Berita Terkait : Ekspor Lambat, Pendapatan Petani Sawit Nyungsep

Pemilih Majelis Tinggi Jepang berlangsung 10 Juli 2022, dua hari sejak wafatnya mantan Perdana Menteri Shinzo Abe setelah ditembak saat kampanye.***