Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Program B50 Dinilai Perkuat Swasembada Energi dan Tekan Impor BBM
- S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Investor Tetap Kuat
- Igor Tolic Ungkap Alasan Pilih Gabriel Mutombo Jadi Benteng Baru Persib
- Resmi, Lilipaly Berseragam Semen Padang FC
- Piala AFF 2026, Marc Klok Bidik Prestasi Bersama Timnas Indonesia
Sebut Sanksi Ke Rusia Jadi Bumerang
Presiden Putin Ngeledek Barat Nih
Kamis, 8 September 2022 23:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Rusia Vladimir Putin menuding, Pemerintahan Barat jadi korban sanksi mereka sendiri, yang dijatuhkan kepada Rusia. Jika Eropa memberlakukan batasan harga (price cap) pada pembelian gas Rusia, Putin mengancam menghentikan pasokan energi. Eropa bakal membeku di musim dingin, tanpa pasokan energi dari negaranya.
Sejak meletusnya perang Rusia dan Ukraina, 24 Februari lalu, Amerika Serikat dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi luas terhadap Rusia. Sanksi tersebut salah satunya adalah sanksi ekonomi yang membuat Rusia diembargo dan kesulitan menjual komoditas negaranya ke negara-negara Eropa.
Baca juga : Teriakan Puan Presiden Terus Terdengar Di Toba
Barat juga memberi sanksi bagi negara-negara yang tetap melakukan kerja sama dengan Rusia. Namun ternyata, sejumlah sanksi tersebut malah berdampak negatif bagi negara-negara yang menjatuhkannya.
Dilansir Kantor Berita Iran, IRNA, Vladimir Putin di pidatonya di Forum Ekonomi Timur (EEF) di kota Vladivostok, Rusia, Rabu (7/9) mengatakan, Rusia akan membela kepentingan nasionalnya dan melanjutkan kebijakan independen.
Baca juga : Uang Pensiun DPR Jadi Beban Negara Nih...
“Mengucilkan Rusia untuk saat ini tidak mungkin. Krisis pangan di dunia saat ini semakin parah,” tutur Putin.
Masih menurut Putin, Rusia semampunya telah melakukan upaya untuk menjamin pengiriman gandum Ukraina ke negara-negara yang terancam krisis pangan. Kini ekonomi di Asia tumbuh lebih cepat dari Barat, dan proses ini akan terus berlanjut.
Baca juga : Airin Sebut Target Airlangga Presiden RI Ke-8 Sangat Realistis
“Ada kewajiban kontrak dan jika ada keputusan politik yang bertentangan, maka kami tak akan memenuhinya. Dalam hal ini, kami tak akan memasok apa pun jika itu bertentangan dengan kepentingan ekonomi kami,” tuturnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya