Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Eksklusif Dengan Dubes Rusia Untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva
Kalau Barat Stop Kirim Senjata Ke Ukraina, Perang Sudah Usai
Senin, 12 Desember 2022 07:20 WIB
Sebelumnya
Apakah tidak ada upaya memecahkan persoalan di dua wilayah itu?
Kami berdialog dengan Kiev. Kami berdialog dengan mitra Barat kami. Tapi gagal. Serangan ke Donetsk dan Luhansk tidak berhenti. Hal itu jadi pertanyaan warga yang tinggal di wilayah tersebut, mengapa mereka diserang? Mereka hanya ingin melestarikan budaya Rusia.
Karena, setelah kudeta pada 2014 di Kiev yang didukung Barat, Pemerintah Ukraina sangat Russophobia (sentimen terhadap Rusia). Mereka tidak hanya anti Rusia. Tapi mereka ingin menghilangkan etnis Rusia yang berbicara dengan bahasa Rusia, meski mereka adalah warga negara Ukraina.
Yang coba dilakukan Pemerintah Ukraina saat ini adalah melarang bahasa Rusia. Tapi, bagaimana Anda bisa melakukannya di negara yang 50 persen penduduknya adalah etnis Rusia, mereka berbicara bahasa Rusia. Terutama di wilayah timur Ukraina.
Baca juga : Sung Y Kim, Dubes AS Untuk Indonesia: Biarpun Gugur, Setia Dukung AS
Lalu di Crimea. Rakyat Crimea memutuskan mengadakan referendum agar kembali ke Rusia. Orang-orang Donetsk dan Luhansk kemudian memproklamirkan kemerdekaan mereka.
Jadi tujuan operasi kami, pertama-tama, adalah membebaskan wilayah-wilayah ini, yang sekarang menjadi bagian dari Rusia. Karena mereka juga mengadakan referendum. Dan sebagian besar orang memutuskan bahwa mereka ingin menjadi bagian dari Rusia. Kami perlu membebaskan wilayah ini dan melindungi warganya.
Apa alasan lainnya?
Tentu saja, kami ingin melihat Ukraina sebagai demiliterisasi, sebuah negara yang tidak menghadirkan ancaman bagi Rusia. Karena sejak 2014, Barat menginvestasikan banyak uang, mengubah Ukraina menjadi instrumen politik dan militer anti Rusia.
Baca juga : Frisian Flag Indonesia Luncurkan Gerakan Sarapan Keliling Penuh Nutrisi
Apakah ada kemajuan tentang perdamaian yang menguntungkan kedua negara?
Seperti yang Anda ketahui, kami terlibat dalam pembicaraan damai dengan Ukraina pada Maret 2022. Kami telah berada di Turki, melakukan lima putaran pembicaraan. Dan kami hampir mencapai kesepakatan dengan Ukraina.
Tapi tahukah Anda apa yang terjadi? Perdana Menteri Inggris Raya datang ke Kiev. Dia berbicara dengan Zelenskyy dan segera menarik diri dari pembicaraan.
Jadi sebenarnya, sekali lagi, Zelenskyy tidak independen dalam kebijakannya. Dia melakukan apa pun yang diperintahkan oleh Barat dan tentu saja Amerika Serikat dengan sekutu mereka.
Baca juga : Peringati Bulan Bahasa, Pilih Kata Gemes
Beberapa bulan lalu, dia bahkan menandatangani dekrit yang melarang pembicaraan apa pun dengan Rusia. Kami selalu menyatakan bahwa target, tujuan operasi kami akan tercapai, baik melalui pembicaraan atau jika Ukraina tidak ingin melakukan pembicaraan.
Masalahnya sebenarnya bukan Ukraina. Pada dasarnya sekarang, kami menghadapi konfrontasi dengan Barat. Karena jika mereka tidak mengirim lebih banyak senjata ke Ukraina, konflik akan berakhir pada Maret dan April.
Tidak hanya mengirim senjata. Mereka memberikan informasi intelijen melalui sistem satelit. Mereka melatih pasukan Ukraina, dan juga mengirim tentara bayaran serta instruktur. Jadi sebenarnya, kita sedang menghadapi perang hibrida.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya