Dark/Light Mode

RI-Denmark Galang Kerja Sama Perangi Hate Speech, Intoleransi, dan Ekstremisme

Sabtu, 5 Oktober 2019 13:42 WIB
Dubes RI untuk Denmark M Ibnu Saud (ketiga kiri) di sela acara `The Third Indonesia-Denmark Interfaith and Intermedia Dialogue` di Kopenhagen, Denmark, Kamis (3/10). (Foto: KBRI Kopenhagen)
Dubes RI untuk Denmark M Ibnu Saud (ketiga kiri) di sela acara `The Third Indonesia-Denmark Interfaith and Intermedia Dialogue` di Kopenhagen, Denmark, Kamis (3/10). (Foto: KBRI Kopenhagen)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di era teknologi informasi yang berkembang saat ini, arus informasi, berita, dan opini dengan mudahnya dapat dibagikan. Dipublikasikan dan diakses oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

Dengan demikian, individu bahkan organisasi yang tidak bertanggung jawab, dapat menyebarkan hate speech dan fake news. Ini bisa membangun kebencian, dan opini publik yang negatif.

Demikian dikatakan Duta Besar RI untuk Denmark, M. Ibnu Said, dalam sambutannya di acara pembukaan "The Third Indonesia – Denmark Interfaith and Intermedia Dialogue" di Kopenhagen, Denmark, 3 Oktober 2019.

“Indonesia dan Denmark memiliki tantangan yang sama dalam mengatasi ujaran kebencian (hate speech), berkembangnya intoleransi, dan ekstremisme. Dialog lintas agama dan media seperti saat ini adalah salah satu kerja sama yang dilakukan kedua negara, dalam upaya mengatasi tantangan tersebut,” tutur Dubes Ibnu Said.

Berita Terkait : Indonesia–Selandia Baru Buka Peluang Kerja Sama Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja

Duta Besar (Dubes) Michael Suhr, Special Representative for Freedom of Religion or Belief Kementerian Luar Negeri Denmark, menggarisbawahi pentingnya mempromosikan toleransi dan upaya, untuk saling menghormati di antara masyarakat yang pluralis.

“Forum dialog ini merupakan pondasi dasar kedua negara, untuk meningkatkan kerja sama bilateral dalam mewujudkan keharmonisan dan rasa saling pengertian,” ujar Dubes Michael Suhr.

“Pendidikan kepada masyarakat juga elemen yang sangat penting dalam memberikan pemahaman dan penjelasan terhadap pluralisme, keragaman budaya dan agama, serta tenggang rasa,” lanjutnya.

Pembicara Indonesia dalam forum dialog tersebut adalah Prof. Syafiq Mughni (Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban), Romo Eko Armada Riyanto (Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana), Agus Sudibyo (Dewan Pers Indonesia), Jati Savitri (Media Group), dan Rudi Sukandar (The Habibie Centre).

Berita Terkait : La Nyalla: Era Jokowi Percepat Pembangunan Indonesia Sentris

Dari Denmark, hadir Jacob Mchangama (Direktur dan pendiri Justitia, judicial think tank Denmark yang pertama), Filip Buff Pedersen dari Danish Mission Council dan Lucas Skræddergaard (The Danish Youth Council’s Board and the Christian Youth Organization “Ung Mosaik”).

Forum tersebut membahas keragaman budaya, kebebasan beragama, peran pemuka agama dan masyarakat dalam membangun masyarakat damai dan inklusif. Serta keterlibatan pemuda dan media dalam upaya menangani penistaan agama. Selain itu, juga dibutuhkan peran media, unsur masyarakat, dan pemerintah.

Terutama dalam hal penetapan dan implementasi kebijakan legal, upaya literasi bermedia sosial yang bertanggung jawab, dan media yang menyuguhkan kebenaran. Tetapi tidak bias, dan tidak memprovokasi.

Delegasi Indonesia juga berkunjung ke Danish Islamic Center, dan berdialog dengan ulama Denmark.

Berita Terkait : RI Perkuat Kerja Sama Infrastruktur Dengan Timor Leste

Selain itu, juga melakukan pertemuan dengan VINK, sebuah lembaga deradikalisasi ekstremisme di Kota Kopenhagen.

Kunjungan ini memberikan pemahaman yang lebih dalam, terkait praktek beragama dan interaksi antar umat beragama di Denmark. Serta upaya pemerintah Denmark dalam mengatasi ekstremisme.

Indonesia – Denmark Interfaith and Intermedia Dialogue merupakan wujud komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama dalam memajukan demokrasi, hak asasi manusia, toleransi, dan kebebasan dalam beragama, sebagaimana tercantum dalam Plan of Action 2017 – 2020 for the Partnership between the Government of the Kingdom of Denmark and the Government of the Republic of Indonesia.

Tahun depan, hubungan diplomatik Indonesia dan Denmark akan mencapai 70 tahun. [HES]