Dark/Light Mode

Blak-Blakan Tak Setuju Pembentukan Negara Palestina, Netanyahu Ngelawan Amerika

Jumat, 19 Januari 2024 14:05 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Instagram)
PM Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, pihaknya telah blak-blakan menentang Amerika Serikat (AS), terkait pembentukan negara Palestina setelah konflik di Gaza berakhir.

Dalam sebuah konferensi pers, Netanyahu bersumpah untuk melanjutkan serangan di Gaza, hingga mencapai kemenangan penuh: kehancuran Hamas dan kembalinya sandera Israel yang tersisa. Menurutnya, hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Dengan hampir 25 ribu warga Palestina terbunuh di Gaza, dan 85 persen populasi yang tak lagi memiliki tempat tinggal - menurut laporan Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas -, Israel menghadapi tekanan kuat untuk menghentikan serangannya. Serta terlibat dalam perundingan serius mengenai penghentian perang secara berkelanjutan.

Para sekutu Israel, termasuk AS – dan banyak musuhnya – telah mendesak kebangkitan “solusi dua negara” yang telah lama terbengkalai.

Dalam solusi tersebut, di masa depan, Palestina akan berdiri berdampingan dengan negara Israel. Banyak kalangan berharap, krisis yang terjadi saat ini dapat memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk kembali melakukan diplomasi, sebagai satu-satunya alternatif yang dapat dilakukan untuk menyudahi siklus kekerasan yang tiada akhir.

Baca juga : Ganjar Usul Pengangkatan Dubes Dan Pembentukan Badan Siber Di Bawah Polri

Namun, Netanyahu, justru memperlihatkan reaksi yang sebaliknya. Dalam konferensi pers pada Kamis (18/1/2024), Netanyahu mengatakan, Israel harus memiliki kendali keamanan atas seluruh wilayah di sebelah barat Sungai Yordan, yang akan mencakup wilayah negara Palestina mana pun di masa depan.

"Saya mengatakan kebenaran ini kepada teman-teman Amerika. Saya juga menghentikan upaya untuk memaksakan kenyataan pada kita, yang akan membahayakan keamanan Israel," kata Netanyahu seperti dikutip BBC, Jumat (19/1/2024).

Netanyahu telah menghabiskan sebagian besar karier politiknya, dalam menentang pembentukan negara Palestina. Bulan lalu, Netanyahu berkoar-koar bahwa dia telah bangga mencegah pendirian negara tersebut. Sehingga, pernyataan terbarunya tidaklah mengejutkan.

Namun, bantahan publik terhadap dorongan diplomatik Washington, dan tekad untuk tetap menggunakan jalur militer saat ini, menunjukkan jurang yang semakin lebar dengan sekutu barat Israel.

Sejak serangan tanggal 7 Oktober 2023 – yang terburuk dalam sejarah Israel -, ketika orang-orang bersenjata Hamas membunuh sekitar 1.300 warga Israel dan menyandera sekitar 240 orang – AS telah mendukung haknya untuk membela diri.

Baca juga : Tak Bocorkan Rahasia Negara Saat Debat, Netizen Puji Prabowo

Namun seiring bertambahnya jumlah korban tewas di Gaza, dan pemandangan mengerikan di wilayah tersebut, pemerintah negara-negara Barat menyerukan agar Israel menahan diri.

Gedung Putih pun telah berulang kali mencoba mempengaruhi kebijakan militer Israel. Mendesak agar lebih banyak menggunakan senjata berpemandu presisi, dibandingkan serangan udara menyeluruh, mencegah serangan darat, serta menyerukan solusi dua negara, dengan peran Otoritas Palestina di Gaza pasca-konflik.

Namun, nasihat Washington sering kali masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Bahkan, mendapat penolakan langsung. Sering, ini terjadi secara terbuka, selama kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Hal ini mendongkrak rasa frustrasi di beberapa kalangan Amerika atas dukungan menyeluruh pemerintahan Biden terhadap Israel. Mereka pun meminta AS menerapkan persyaratan untuk sekutu Timur Tengah.

Menanggapi komentar terbaru Netanyahu, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, Amerika tidak akan berhenti mengkonkretkan solusi dua negara. "Tidak akan ada pendudukan kembali di Gaza," ujarnya.

Baca juga : Juventus Vs Salernitana, Si Nyonya Tua Ngejar Gelar Kasta Kedua

Komentar Netanyahu jelas menyenangkan pendukungnya yang kini sudah semakin berkurang. Serta para menteri sayap kanan yang mendukung pemerintahannya.

Namun, masyarakat dunia semakin merasa ngeri dengan jatuhnya korban jiwa, yang jumlahnya semakin banyak. 

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan, sebagian besar warga Israel menginginkan Netanyahu memprioritaskan pemulangan sandera yang tersisa, dibandingkan tujuan yang nyaris mustahil: menghancurkan Hamas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.