Dark/Light Mode

Di Rangkaian OOC 2019, Indonesia Gelar Side Event Enhancing Marine Sustainability

Sabtu, 26 Oktober 2019 15:31 WIB
Delegasi Indonesia dan Myanmar di side event bertajuk Enhancing Marine Sustainability through Cooperation, Conservation Actions and Marine Debris and Disaster Risk Reduction, di Oslo, Norwegia, Jumat (25/10). (Foto: Dok. Ditjen Hubla)
Delegasi Indonesia dan Myanmar di side event bertajuk Enhancing Marine Sustainability through Cooperation, Conservation Actions and Marine Debris and Disaster Risk Reduction, di Oslo, Norwegia, Jumat (25/10). (Foto: Dok. Ditjen Hubla)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam rangkaian pertemuan global Our Ocean Conference (OOC) Pemerintah Indonesia mengadakan side event bertajuk Enhancing Marine Sustainability through Cooperation, Conservation Actions and Marine Debris and Disaster Risk Reduction, di Oslo, Norwegia, Jumat (25/10). Dalam penyelenggaraan ini, Pemerintah Indonesia diwakili Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai focal point Indonesia bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia. 

Side event ini diadakan dengan tujuan mempererat kerja sama Indonesia dengan negara tetangga, yaitu Myanmar. Juga untuk menyampaikan upaya dan pencapaian Pemerintah Indonesia dalam pengelolaan sumber daya laut dan perikanan secara berkelanjutan.

Side event diawali dengan pertemuan antara delegasi Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Myanmar untuk mendiskusikan sejumlah isu kelautan dan perikanan. Seperti pengembangan perencanaan ruang laut, pengelolaan secara efektif kawasan konservasi perairan, penanganan sampah plastik, dan penggunaan VMS dalam pengelolaan perikanan. 

Berita Terkait : Lanjutkan Komitmen Bersihkan Laut, Ini Gerakan Kemenhub

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Syarief Widjaja, selaku Ketua Delegasi Pemerintah Indonesia, menerima Sekretaris Permanen Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Irigasi  Pemerintah Myanmar, U Hla Tun. Dalam pertemuan ini, Indonesia berharap dapat mempererat hubungan dua negara dan membuka peluang bagi Myanmar untuk belajar dari upaya dan keberhasilan Pemerintah Indonesia.

Setelah pertemuan, sesi dilanjutkan dengan diskusi yang dibuka Dubes Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis. Dalam sambutannya, Todung menekankan bahwa dunia berpacu dengan waktu untuk memastikan keberlanjutan laut. "Perlu segera menemukan formula yang tepat untuk mengelola sumber daya kelautan yang tidak hanya melalui tindak pengelolaan konvensional," ucap Todung dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (26/10).

Pada kesempatan tersebut, Jason Patlis, Executive Director of Marine Conservation Wildlife Conservation Society, menyampaikan penghargaan atas kepemimpinan Indonesia dalam bidang kelautan. Sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau, Pemerintah Indonesia, sejak menginisiasi Hukum Laut pada 1950-an, tetap berada di garis depan  dalam pengelolaan laut.

Berita Terkait : OOC 2019 Ditutup, Indonesia Sampaikan 3 Komitmen Baru

Pada sesi pertama diskusi, Sekretaris utama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwi Budi Sutrisno, membahas mengenai sejumlah inovasi dan upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk mengurangi dampak bencana di pesisir, meningkatkan keselamatan pelayaran, nelayan dan kegiatan pengeboran lepas pantai. 

Kemudian dilanjutkan Sapta Putra, Kepala Subdirektorat Restorasi KKP yang memaparkan materi mengenai komitmen penuh Indonesia untuk mengurangi sampah di laut.  "Komitmen ini dilaksanakan dalam bentuk aksi Gerakan Bersih Pantai dan laut (GBPL), Jambore Pesisir, Pengembangan kelompok pengolah sampah plastik dan kerjasama lintas kementerian, NGOs dan Internasional," jelas Sapta.

Dalam sesi kedua, diskusi difokuskan pada pengelolaan kawasan konservasi perairan, sejumlah upaya untuk meningkatkan efektivitas pengelolaannya, serta mengulas pengelolaan berbasis kawasan lainnya untuk sumber daya laut yang lestari.

Berita Terkait : Ini Kontribusi Indonesia di OOC 2019 Norwegia

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Agus Dermawan, memaparkan roadmap Indonesia dalam memenuhi komitmen untuk pencapaian Aichi Target 10 persen pada 2030.

Sesi pemaparan diakhiri dengan presentasi Prayekti Ningtias mewakili Wildlife Conservation Society Indonesia Program. Dalam paparannya, dia menekankan pentingnya kemitraan antara pengelola kawasan konservasi peariran dengan para pemangku kepentingan dalam meningkatkan efektivitas kawasan konservasi perairan.  [USU]