Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat menegaskan untuk menolak klaim China atas hampir semua perairan Laut China Selatan (LCS). Bahkan negara adidaya itu mengancam dengan halus soal adanya sanksi jika masih membangkang.
Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik David Stilwell menegaskan, AS mempunyai kebijakan untuk memperjuangkan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
"Kebijakan kami menghargai keragaman negara-negara tersebut. Kami membela kedaulatan, kemerdekaan dan pluralisme," kata Stilwell, dalam pernyataan yang diposting di laman Departemen Luar Negeri AS.
Baca juga : Rasisme Ancaman Nyata Bagi Keutuhan Bangsa
Menurutnya, Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berarti suatu wilayah di mana negara-negara aman dalam penggunaan bersama mereka atas kepemilikan perairan tersebut. Dia menambahkan, tidak ada kekuatan hegemoni mendominasi atau mengubah perairan internasional menjadi 'zona pengecualian'.
Stilwell menuturkan pendekatan yang dilakukan AS dibangun atas catatan panjang AS di Pasifik dalam menjaga perdamaian, menegakkan kebebasan laut yang sejalan dengan hukum internasional.
"Ini adalah kepentingan yang penting dan tetap kami miliki bersama dengan banyak sekutu dan mitra kami," terangnya.
Baca juga : Soal Pembatasan Visa, Skor China Vs AS 1-1
AS pun membuka ruang sanksi untuk China jika mereka tetap keukeuh dengan klaim mereka di LCS. "Segalanya mungkin. Ada ruang untuk hal tersebut. Ini bahasa yang Pemerintah China bisa pahami," ujar Stilwell.
China memang selama ini mengklaim hampir 90 persen dari Laut China Selatan yang berpotensi kaya energi. Tetapi, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim bagian-bagiannya di perairan yang menjadi jalur perdagangan senilai 3 triliun dolar AS per tahun.
AS merupakan rekan perdagangan terbesar di kawasan dengan total perdagangan sebesar 300 miliar dolar AS (Rp 4,3 triliun) pertahun dengan kawasan berpopulasi 650 juta orang ini. Produk Domestik Bruto (PDB) ASEAN juga terus naik dan menghasilkan hampir 3 triliun GDP pertahunnya.
Baca juga : Seri A : Awas, Jangan Remehkan Si Ular Putih Ya!
"Ini merupakan hasil sistem global, sinergi, stabilitas dan keamanan yang ada di kawasan ini. Sayangnya ini semua diganggu Beijing yang membangun pangkalan-pangkalan di atas atol di Laut China Selatan, tetapi mengatakan niatnya damai," kata Stiwell.
AS sudah lama menentang klaim China atas LCS. Bahkan, untuk merespons China yang unjuk kekuatan militer, Amerika mengirim kapal perang induknya ke LCS, USS Reagan dan USS Nimitz. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya