Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Isu Rasisme Anti Palestina Terpa University of Toronto Kanada
Senin, 21 September 2020 10:05 WIB
Sebelumnya
Rasisme Anti-Palestina
Presiden Asosiasi Pengacara Arab Kanada (ACLA) Dania Majid, turut mengomentari hal ini. Dia menilai, bantahan Iacobucci bahwa tawaran itu diajukan kepada Azarova adalah sesuatu yang mengerikan, mengingat anggota komite perekrutan telah mengundurkan diri sebagai protes.
"Dia seperti melempar fakultasnya ke kolong bus, karena kesalahan yang dia buat. Itu tidak bisa diterima," katanya, kepada Al Jazeera.
Baca juga : 2 Pesawat Anti Kapal Selam China Terobos Zona Udara Taiwan
Hal ini, lanjut Majid, mengirimkan pesan yang sangat buruk kepada mahasiswa di fakultas hukum, anggota fakultas, juga semua calon mahasiswa Palestina, bahwa suara dan pendapat mereka, tidak diterima di kampus itu. Bahkan kampus itu tidak akan membela hak mereka untuk mengungkapkan pendapat jika mereka diserang.
Namun dia menilai, kontroversi ini tidak mengherankan, karena rasisme anti-Palestina masih parah terjadi di berbagai institusi, tak terkecuali institusi hukum. "Ini adalah kisah tentang bagaimana suara-suara Palestina, akademisi Palestina atau mereka yang bekerja di Palestina, secara khusus jadi sasaran delegitimasi," kata Majid.
Untuk itu, ujarnya lagi, ACLA telah menuntut agar Fakultas Hukum University of Toronto melaporkan masalah campur tangan ini kepada Dewan Yudisial Kanada dan penyelidikan harus dilakukan.
Baca juga : Terbang Perdana Ke Antartika, Para Penumpang Cek Corona Ketat
Sedangkan Koordinator Nasional untuk Suara Yahudi Independen Kanada (Independent Jewish Voices Canada) Corey Balsam mengatakan, insiden itu merupakan indikasi ketidakpedulian yang umum dirasakan di seluruh akademisi Amerika Utara. "Mereka yang secara terbuka mengkritik Israel dan mendukung keadilan bagi Palestina, diserang kiri, kanan dan tengah," katanya kepada Al Jazeera.
Balsam mengatakan, kelompok pro-Israel telah meningkatkan serangan mereka untuk memaksa universitas mengadopsi redefinisi kontroversial dari International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA) tentang anti-Semitisme, termasuk bentuk-bentuk kritik tertentu terhadap negara Israel.
"Sepertinya bukan kebetulan, insiden Azarova terjadi di Universitas Toronto, yang telah menjadi salah satu target utama kampanye ini di Kanada," katanya.
Baca juga : Ingat, Perokok Rentan Tertular Virus Corona!
Saat ini, sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) diupayakan mengadopsi redefinisi IHRA tentang anti-Semitisme di pemerintah Provinsi Ontario. IHRA adalah organisasi antar pemerintah yang didirikan pada 1998. Tujuannya, menyatukan pemerintah dan para pakar untuk memperkuat, memajukan dan mempromosikan pendidikan, penelitian, dan peringatan peristiwa Holocaust di seluruh dunia, dan untuk menjunjung tinggi komitmen Deklarasi Forum Internasional Stockholm tentang Holocaust. IHRA memiliki 34 negara anggota, satu negara penghubung dan tujuh negara pengamat.
Holocaust adalah pembunuhan massal terhadap sekitar 6 juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, program pembunuhan sistematis yang didukung Jerman Nazi, dipimpin Adolf Hitler. Dari 9 juta Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Lebih dari 1 juta anak Yahudi tewas, serta kira-kira 2 juta perempuan Yahudi dan tiga 3 pria Yahudi.
"Apa artinya itu bagi mereka yang punya perhatian terhadap isu-isu Palestina? Karena mereka akan diserang [jika mereka] berbicara tentang hak-hak Palestina," ujar Majid, mengungkapkan keprihatinannya. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya