Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hasil Survei Selalu Di Belakang Biden
Trump Lancarkan Lima Janji Manis Galang Suara Di Menit-menit Terakhir
Jumat, 30 Oktober 2020 17:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemilihan presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) tinggal hitungan jari. Presiden Donald Trump dalam jajak pendapat terus berada di belakang lawannnya, capres Partai Demokrat Joe Biden. Menjelang pesta demokrasi yang dihelat 3 November 2020 waktu setempat, inilah taktik capres petahana kubu Republik itu untuk menggalang dukunga pemilih di menit-menit terakhir, dilansir YahooNews, Rabu (30/10/2020)
1. Menyetujui Dana Talangan Pertanian. Trump dalam Twitter maupun kampanyenya mengungkit dana talangan untuk petani yang telah pemerintahanya gelontorkan 28 miliar dolar AS, sekitar Rp 411,5 triliun pada 2018-2019. Ia berharap mendapatkan suara dari para petani. Tanpa bantuan tersebut, pendapatan pertanian akan berada di level terendah sejak 2014.
Selain itu, Trump juga menggelontorkan untuk petani terdampak Covid-19 19 miliar dolar AS lebih (sekitar Rp 279 triliun) pada April. Namun masih belum terpakai semuanya. Lalu, September lalu, pebisnis real estate itu menjanjikan lagi 14 miliar dolar AS lainnya (sekitar Rp 206 triliun) pada September. Sehingga total dana talangan selama masa kepresidenannya menjadi 61 miliar dolar AS (sekitar Rp 895 triliun).
2. Janjikan Pemotongan Pajak Lebih Banyak. Ketika industri otomotif AS hampir runtuh pada 2009, pemerintah menanggung uang pensiun sekitar 20.000 pekerja non-serikat di Delphi Corp. Namun Trump akhirnya menghentikan program pensiun tersebut. Hal ini memicu gugatan.
Baca juga : Anies Paling Siap Tangani Covid-19
Kini, Trump mencoba menarik perhatian para pensiunan pekerja di bidang otomotif. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya perintah eksekutif yang menginstruksikan tiga departemen Kabinet untuk "meninjau" masalah dan "memberi tahu" presiden dalam waktu 90 hari jika ada yang bisa atau harus dilakukannya untuk para pensiunan pekerja otomotif tersebut.
Batas waktu 90 hari tersebut, jatuh tepat pada 20 Januari, hari terakhir Trump menjabat. Ia bertekad memenangkan suara di Ohio, negara bagian, di mana sekitar 5.000 pekerja terkena dampak pemotongan pensiun tersebut. Trump menawarkan, lebih banyak pemotongan pajak jika dia menang, termasuk pemotongan pajak gaji yang mendanai Jaminan Sosial dan Medicare, pengurangan pajak bisnis menjadi 20 persen, dan pajak capital gain yang lebih rendah.
Kebijakan ini utamanya akan menguntungkan orang kaya. Bahkan ada kemungkinan, Trump dapat menurunkan pajak lebih banyak, setelah pemotongan pernah ia lakukan pada 2017. Hal ini hanya bisa dilakukan jika Partai Republik mengendalikan Senat dan DPR. Tapi Partai Demokrat, tentu akan mempertahankan kendali di DPR. Partai Biru itu juga memiliki peluang yang sama, atau lebih baik dari Republik menguasai Senat.
3. Pemberdayaan kulit hitam. Kurang dari sebulan sebelum Hari Pemilu, Trump meluncurkan "rencana platinumnya" untuk kemakmuran di komunitas Orang Kulit Hitam (Afrika-Amerika), yang pada dasarnya adalah kumpulan ide untuk meningkatkan kondisi ekonomi mereka. Padahal di awal tahun ini, Trump membela tugu peringatan Konfederasi dan menyebut Black Lives Matter sebagai "simbol kebencian." Ia menilai, dirinya perlu berbuat lebih baik di antara pemilih kulit hitam dibanding saat pemilu tahun 2016, ketika dia hanya menarik 8 persen suara mereka.
Baca juga : Luhut: Kita Jangan Mau Ditakut-takuti Hal Buruk
Karenanya, ia memperkenalkan paket platinum, yakni meningkatkan akses modal untuk bisnis milik orang-orang berkulit hitam, meningkatkan perawatan kesehatan, dan meningkatkan keselamatan. Pada saat yang sama, Trump juga menjanjikan pada orang-orang kulit putih di pinggiran kota, bahwa dia akan menyediakan perumahan bagi warga berpenghasilan rendah.
4. Incar Suara Dengan Mendukung Fracking atau Pengeboran Tambang. Setelah debat presiden kedua pada 22 Oktober, beberapa pejabat Gedung Putih mengatakan Trump sedang merencanakan perintah eksekutif baru, terkait proses pengeboran lahan tambang, atau dikenal sebagai fracking.
Menurut Wall Street Journal, Trump harus membuat pernyataan yang kuat untuk mendukung fracking. Sehingga, mampu menyediakan ribuan pekerjaan di negara bagian swing seperti Pennsylvania, Ohio dan, tahun ini, Texas. Berbeda dengan Biden, saat debat, ia mengatakan, ingin melakukan "transisi" dari ekonomi karbon ke ekonomi energi terbarukan. Saat itu, Trump mendistorsinya dengan mengklaim bahwa Biden ingin melarang semua fracking, padahal sebenarnya tidak.
Karenanya, perintah eksekutif untuk mendukung fracking ini akan menjadi upaya terakhir Trump untuk mengunci suara pemilih, meskipun sejauh ini dia belum mengeluarkan perintah tersebut.
Baca juga : Pertamina Hidupkan Lagi Bisnis Galangan Kapal
5. Kartu Diskon Medicare. Upaya lain yang dilakukan Trump untuk meraih suara di menit-menit terakhir pemilu, yakni pihaknya akan memberikan 33 juta kartu diskon bagi pendaftar Medicare. Dengan kartu ini, setiap orang akan menghemat hingga 200 dolar AS (setara hampir Rp 3 juta) untuk resep obat. Hal ini diumumkannya pada akhir September. Sayangnya, harapan Trump untuk mendapat suara dari kalangan lansia runtuh. Sebab, sebagian besar lansia paling terdampak pandemi virus Korona. Selain itu, beberapa kritikus mempertanyakan legalitas program kartu diskon tersebut. Sekarang, tampaknya tidak ada yang akan mendapatkan kartu diskon sebelum pemilihan. Namun, apakah setelah pemilu selesai, Trump masih peduli? [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya