Dark/Light Mode

Kabar Buruk Dari WHO, Dunia Berada Di Titik Kritis Pandemi

Jumat, 16 April 2021 14:17 WIB
Perdana Menteri India, Narendra Damodardas Modi, 70 tahun, diberikan dosis pertama dari Covaxin asli yang dikembangkan oleh Bharat Biotech di All India Institute of Medical Sciences di Delhi. [Foto: Press Trust of India]
Perdana Menteri India, Narendra Damodardas Modi, 70 tahun, diberikan dosis pertama dari Covaxin asli yang dikembangkan oleh Bharat Biotech di All India Institute of Medical Sciences di Delhi. [Foto: Press Trust of India]

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Kesehatan Dunia (WHO) membawa kabar buruk. Lembaga itu menyebut pandemi virus corona (Covid-19) tumbuh secara eksponensial.

Penumbuhan eksponensial merujuk ke kenaikan jumlah kasus per hari yang memiliki faktor bersifat konstan atau mendekati. Ini mengindikasikan, jumlah kasus membludak tinggi di luar ekspektasi. "Kita berada di titik kritis pandemi," kata Kepala Teknis WHO, Maria Van Kerkhove, dikutip dari CNBC International, saat berbicara Senin (12/4/2021).

"Ini bukanlah situasi yang kami inginkan terjadi dalam 16 bulan, di mana kita telah membuktikan sejumlah langkah-langkah pengendalian," jelasnya.

Baca juga : Duta Besar Berbagi Pengalaman Di Universitas Islam Indonesia

Pernyatannya bukan tanpa dasar. WHO mencatat, kasus Corona di seluruh dunia naik 9%, peningkatan mingguan ketujuh berturut-turut. Angka kematian juga melonjak 5%.

"Kita perlu memeriksa kenyataan tentang apa yang perlu kita lakukan... Vaksin dan vaksinasi memang tengah dilakukan, tapi belum menyeluruh di seluruh bagian di dunia," terang Maria.

Ia pun meminta pemerintah di seluruh dunia menerapkan langkah-langkah keamanan, sesuai protokol kesehatan. Apalagi, sejumlah negara ternyata kini tetap melonggarkan pembatasan meski kasus baru setiap minggu, delapan kali lebih tinggi, dari angka pada 2020.

Baca juga : Nih, Panduan Puasa Di Tengah Pandemi

Sebelumnya peringatan sudah disampaikan ahli WHO lainnya, Kepala Program Darurat Kesehatan, Dr. Mike Ryan. Ia mendesak warga untuk tetap menggunakan masker dan menerapkan aturan jarak sosial di saat vaksinasi masih berjalan.

"Virus ini lebih kuat, lebih cepat dengan munculnya varian baru yang menyebar lebih mudah dan lebih mematikan daripada strain virus asli. Kita masih berjuang, meski sudah lelah dengan lockdown yang ketat," tegasnya.

Salah satu negara yang kini mengalami peningkatan signifikan terkait Corona adalah India. Negara sumber farmasi dunia itu, kini mengambil alih posisi Brasil sebagai negara dengan kasus Corona terbanyak secara global di bawah Amerika Serikat (AS).

Baca juga : FOOM Ajak Pelaku Industri Untuk Bangkit Bersama di Tengah Pandemi

Hal ini membuat negara tersebut membatasi vaksin AstraZeneca yang dibuat di pabriknya. Minggu (11/4/2021), India juga membuat larangan ekspor obat Corona, Remdesivir.

Obat tersebut sebenarnya diproduksi perusahaan AS, Gilead. Namun tujuh perusahaan India mendapat lisensi untuk memproduksi dengan kapasitas 3,9 juta per bulan, untuk distribusi lokal dan ekspor ke 100 negara. Karena dianggap potensial membantu mengobati penularan Corona, terutama bagi pasien berat dan kritis.

Di AS, varian Inggris B.1.1.7 yang "ganas" adalah jenis yang paling sering ditemui. "Rumah sakit juga mengalami peningkatan jumlah orang muda yang dirawat," tegas Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Dr Rochelle Walensky. [RSM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.