Dark/Light Mode

Rebut Belasan Wilayah Di Afghanistan

Taliban Kian Menggila, Trump Semprot Biden

Sabtu, 14 Agustus 2021 05:20 WIB
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. (Foto : Istimewa).
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. (Foto : Istimewa).

 Sebelumnya 
Lalu, pada hari yang sama, Taliban telah merebut kota terbesar kedua di Afghanistan, Kandahar. Serta Taliban telah merebut Lashkar Gah, Ibu Kota Provinsi Helman, kawasan Selatan. Saat ini, tentara Afghanistan masih bisa mempertahan Farah, Ibu Kota Provinsi Farah di Barat. Herat, Ibu Kota Provinsi Herat di barat, masih diperebutkan Taliban. Begitu juga Pul-e-Alam Ibu Kota Provinsi Logar di timur.

Manuver Taliban itu memicu kemarahan sejumlah warga Afghanistan atas keputusan Presiden Joe Biden untuk menarik pasukan AS, setelah 20 tahun setelah mereka menggulingkan Taliban. Tepatnya, AS menganeksasi Afghanistan dari Taliban setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Biden mengaku, tidak menyesali keputusannya. Sebab, ia mencatat AS telah menghabiskan lebih dari 1 triliun dolar AS (sekitar Rp14.000 triliun lebih) dalam perang terpanjang yang melibatkan AS. Dalam perang itu juga, Negeri Paman Sam itu telah kehilangan ribuan tentara.

Baca juga : Presiden Afghanistan Cari Bantuan Panglima Perang

Menanggapi kondisi terkini, Pentagon akan mengirim sekitar 3.000 tentara tambahan dalam waktu 48 jam demi membantu mengevakuasi staf Kedutaan Besar AS.

Inggris juga akan mengerahkan sekitar 600 tentara untuk membantu warganya pergi.

Evakuasi WNI

Baca juga : Pinangki Masih Sakti

Sejauh ini, WNI yang berada di Afghanistan ada 6 orang. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Judha Nugraha, mengatakan, Kedutaan Besar RI di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, terus menjalin komunikasi dan memonitor kondisi WNI.

“Jika ada WNI yang kesulitan mendapatkan penerbangankomersial untuk keluar dari Afghanistan, KBRI Kabul akan bantu fasilitasi mereka untuk mendapatkan akses penerbangan,”kata Judha

Sejauh ini, Judha menuturkan bahwa penerbangan komersial masih berjalan normal di Afghanistan.

Baca juga : Rashford: Saya Minta Maaf Mengecewakan Semua Tim

Taliban sampai beberapa hari terakhir memfokuskan seranganmereka di utara. Wilayah tersebut tidak pernah mereka kendalikan sepenuhnya saat mereka berkuasa dulu.

Wilayah utara menjadi jantung pasukan koalisi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dipimpin AS. [DAY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.